Surabaya - Anggota DPRD Jatim bertanya-tanya terkait hasil UN yang diterima 26 siswa SMA dan SMK di Surabaya dengan nilai 0 (nol). Hal itu dianggap anggota dewan sebagai keteledoran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur maupun Kota Surabaya serta pihak sekolah.
"Minggu depan kita akan panggil Dinas Pendidikan Provinsi Jatim untuk mengklarifikasi kenapa sampai terjadi seperti itu," kata Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Fuad Mashuni kepada wartawan di Pasar Seni Lukis Indonesia di Balai Pemuda Surabaya, Minggu (15/5/2011).
Anggota dewan dari PKB ini menegaskan, dengan kejadian itu, yang menjadi korban adalah para siswa. Menurutnya, yang bertanggungjawab atas kekeliruan itu adalah semua pihak mulai dari sekolah, Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
"Ini kesalahan petugasnya, kok bisa nol. Bagaimana nasib anak-anak kita. Itu tanggung jawab sekolah dan dinas. Yang salah sekolah dan dinas tidak meneliti," tuturnya.
Fuad mengatakan, tidak menutup kemungkinan kasus yang terjadi di Surabaya juga terjadi di beberapa daerah lainnya. Ia meminta semua pihak harus bertanggungjawab dan mencarikan solusinya agar anak-anak bisa melanjutkan cita-citanya.
"Kalau anak-anak diminta mengikuti ujian paket, akan membuat psikologi anak-anak down. Yang jelas, mereka akan menjadi korban pendidikannya selama setahun," jelasnya.
Seperti yang diberitakan, dari hasil sidak Dinas Pendidikan Kota Surabaya, ditemukan 23 siswa SMKN 5 dan 3 siswa SMA di Surabaya yang nilainya ujiannya nol dan tidak masuk ke dalam entry data. Akibat kejadian itu, Dispendik Kota Surabaya melakukan verifikasi terhadap siswa yang nilainya nol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan berbau intimidasi atau SARA YA...