

Kota Batu yang terkenal dengan wisata dan udara sejuk dinginnya membawa ketertarikan banyak orang untuk tinggal dan menetap di sana. Kota yang tergolong kota baru jadi ini masih asri dan alami belum terjamah dengan tangan-tangan nakal pemuas diri seperti di kota- kota lain umumnya, membuat kita betah tinggal dan berlama-lama diteras tingkat kita. Hal inilah yang mendorong pasangan suami istri untuk menjauhkan diri dari kebisingan dan kepadatan penduduk metropolitan untuk menghabiskan masa-masa tua bersama kekasih tercinta. Desa Punten tepatnya, desa yang dihuni penduduk penghasil dan penjual bunga. Kehidupan penduduk disana sangat rukun dan saling gotong royng dalam segala hal, layaknya penduduk- penduduk desa lainnya.
Pagi yang cerah, indah dan menyejukkan hati gini enaknya ngapain ya ? celetuk seorang kakek bertanya pada istrinya. Iya kek ya … enaknya ngapain ya ?? sahut nenek kebingungan. Thing… aku ada ide kek, gimana klo kita buat sirup aja ? kata nenek. Ok ! jawab kakek. Nenek pun bergegas ke dapur dan menyiapkan segalanya untuk pasangan seumur hidupnya itu. 15 menit waktu berselang, nenek muncul dari balik pintu dengan dua cangkir sirup di tambah beberapa strip roti selai yang membuat perut kakek makin keroncongan. Seteguk demi seteguk kakek menikmati manisnya sirup seperti manisnya hidup mereka yang bergelimang harta. Karena ketagihan akan manisnya sirup, pasangan itu tiap hari melewati hidupnya dengan 5-7 cangkir sirup. Begitu pula dengan anak-anak dan cucu-cucu mereka yang tinggal di Jakarta, semuanya menjadi pecinta sirup dengan selera rasa masing-masing
Berbeda dengan tetangganya yang sangat suka minum sirup, Pak Toyo dan istrinya selalu minum jamu tiap pagi. Kebiasaan itu diturunkan pula pada anak-anak mereka dari kecil. Hidup mereka sebenarnya sangat baik, pada waktu muda Pak Toyo adalah seorang konraktor handal yang berhasil membangun ratusan gedung- gedung pencakar langit di kota-kota besar. Tiap pagi di meja makan selalu ada aneka macam jamu dari kunyit sampai kencur yang diambil dari kebun yang sengaja mereka tanam tumbuh-tumbuhan yang menjadi bahan jamu tak seperti tetangga mereka yang lebih suka menanam bunga. racik Sampai pada suatu waktu sang anak sulung merasa bosan minum jamu dan ingin minum sirup tiap hari seperti kakek yang tinggal disebelah rumahnya. “Yah, kenapa sih kita minum jamuuu melulu tiap pagi ? ayah tau gak sih kalo jamu itu pahitnya minta ampun? “ gerutu Si Sulung. Sang ayah hanya tersenyum, dan berkata “ kamu pasti dapat jawabnya nanti nak”.
5 tahun semenjak itu….
Kakek nenek pecinta sirup mengalami duka yang mendalam karena mereka di vonis mengidap penyakit diabetes dan kanker yang sangat ganas. Tubuh mereka sekarang semakin mengurus dari hari kehari, anak cucu mereka yang tinggal di Jakarta iba dan berduka melihat ayah-ibu /kakek-nenek mereka seperti itu. Hingga akhirnya mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Anak cucunya hanya bias tertunduk, meratapi kepergian keluarga tercintanya itu. Hanya 1 pesan singkat yang pasangan kakek nenek itu berikan pada semua anak cucu mereka. Mereka hanya berkata :
“ anak-anak dan cucu-cucu ku yang kucintai… jangan kau iringi kepergianku nanti hanya dengan tangis, tapi iringi kepergianku dengan merubah kebiasaan buruk yang telah kutanamkan sejak kecil pada kalian di pagi hari. Sesungguhnya pahitlah yang membuat hidup kita lebih baik”
Anak kakek nenek yang di tinggalkan tersebut tak mengetahui apa maksud perkataan pasangan sehidup se-mati itu…hingga bertanya pada tetangga sebelah yang ikut merawat kedua orang tuanya itu sebelum kedatangan mereka ke Kota Batu.
Keluarga pak Toyo yang juga membantu merawat kakek nenek tersebut mendapat ucapan banyak terima kasih dari anak-anak tetangganya itu karena telah banyak membantu merawa orang tuanya. Tapi mereka merasa aneh akan diri pak Toyo dan mulai bertanya, “ pak, apa sih resepnya supaya tetap bugar di Usia senja(80th) seperti bapak ?”. Pak toyo yang didampingi istri dan anak sulungnya menjawab dengan logat jawanya yang kental“jamu mbak, iya jamu yang membuat saya sebugar ini, tiap pagi saya dan keluarga biasa meminumnya… mbak dan mas mau nyoba?”. Merekapun terdiam sejenak dan kemudian menangis, sambil sesenggukan anak perempuan kakek mencium tangan Pak toyo dan berkata “terima kasih pa… Terima kasih banyak… kami tahu jawabanya”. Akhirnya anak-anak kakek-nenek itu menceritakan semua yang terjadi pada Pak Yoto sekeluarga. Kelegaanpun di terima putra sulung Pak Yoto yang selama ini bertanya dan sebel dengan kebiasaan orang tuanya akhirnya terjawab dengan secangkir jamu tiap pagi untuk anaknya dan tentunya untuk ayahnya tercinta..
---------------------------------Sekian-------------------------------------
Kawan, tahukah kalian bahwa pahitnya dunia sebenarnya merupakan pelajaran berharga bagi kita?
Tahukah kalian bahwa suatu hal yang manis itu nantinya akan menghancurkan kita semdiri jika berlebihan?
Kita anak muda jarang memikirkan hal itu, yup.. yang kita pikirkan hanya indahnya sekarang dan bagaimana kalian menikmati hidup dengan gampang dan mudah. Kita tak pernah memikirkan segala kesedihan, hanya fun and happy.
Contohnya saja, kita anak muda/ anda pada masa muda dulu akan selalu berusaha lari dari masalah, sekecil apapun masalah itu… dan kita selalu merasa berat jika cobaan datang menemui kita. Nantinya, jika kita tidak bias menelaah segala masalah dan terbiasa dengan masalah kita pasti akan tersamdung terus dan terus hingga stress akan selalu melingkupi hidup kita. Ya… positif tingking memang perlu kita lakukan agar segala hal sulit dapat kita hadapi.
Ingat segala hal pahit adalah suatu hal yang sangat baik bagi kita jika kita mengerti dan bias menanggapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan berbau intimidasi atau SARA YA...