THEY ARE MADE STUPID BY EDUCATION...
(BERTRAND RUSSELL)
Semenjak kecil kita telah diajarkan untuk berekspresi terhadap dunia. disaat banyak orang menggoda kita yang dalam timangan ayah/ibu, kita akan tersenyum. disaat kita lapar atau kurangnyaman dengan iritasi akibat ompol yang menggumpal di celana kita akan menangis. hingga disaat kita beranjak besar, kita diajarkan untuk merangkak, berguling, berjalan dan berbicara.
Pertumbuhan dan proses belajarpun masih terus berlanjut ketika kita sudah bisa akan hal sebelumnnya. ayah dan ibu mulai mengajari kita bagaimana merespon alam dan lingkungan sekitar dengan landasan praktis dan ideologis. dengan telaten, ayah/ibu menjawab celoteh-celoteh aneh yang kita keluarkan disaat mulai berbicara dan mulai memahami lingkungan sekitar. "apa itu bu/yah, kok bisa itu bu/yah, bagaimana itu bu/bagaimana itu yah??" dan masih banyak lagi. proses itupun terus dan terus berlanjut...
Penanaman awal merupakan suatu pondasi yang menentukan apakah suatu bangunan itu akan tahan lama atau tidak. layaknya pendidikan, bagaimana seorang orang tua/ guru/ pendidik mentransfer ilmu, memberikan pemahaman, pengertian, membuat peserta didik penasaran dengan suatu teori atau menanggapi lingkungan dengan kritis merupakan suatu hal penting dalam membangun sebuah pondasi pemikiran kritis dalam pendidikan yang akan melahirkan rumah (lahirnya intelektual baru) yang detail.
kesadaran n kuntuinitas kita dalam menanggapi alam dan lingkungan sekitar agaknya perlu kita telaah lebih dalam, sebagai mudal awal kita dalam mendidik dalam konteks internal keluarga, lingkungan pendidikan informal maupun lingkungan pendidikan formal. kenapa kita perlu menelaah??
dalam sekolah, tiap hari kita belajar, belajar dan belajar. banyak hal yang kita ketahui dari teori, keadaan lingkungan sekitar hingga bagaimana lingkungan itu membuahkan sebuah teori. sayangnya, motivasi belajar kita terpacu karena adanya target-target dari sekolah. daari pemenuhan Standar kompetensi dan kemampuan dasar. sehingga, hal ini mungkin membuat kita slepas dari lingkungan pendidikan menjadi output pendidikan yang berintelektualitas tapi tak bisa memberikan kontribusi atau merubah lingkungan kita menjadi lebih baik. terkadang selepas kita keluar dari dunia pendidikan kita lupa akan apa yang menjadi investasi(ilmu) kita selama dalam pendidikan atupun pembelajaran dan tak pelak kita akan hanya memiliki secarik kertas yang menunjukkan kita memiliki gelar atau daftar nilai yang katanya menunjukkan tingkat kemampuan kita saja

sekarang mari coba kita bayangkan dan rasakan bersama-sama, jika SK(standar kompetensi) dan KD (kemampuan dasar) coba kita kesampingkan, fokus dirubah menuju bagaimana potensi seorang anak itu difasilitasi dan dikembangkan seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu kita lakukan dulu. layaknya kita memahami kata-kata "guru-guru kita bahwa pendidikan itu untuk mencari ilmu bukan nilai yang ternyata hanya menjadi konsep saja".pertama, mungkin kelas akan terbagi menjadi banyak kelompok, biaya yang dibutuhkan akan meningkat, jumlah pendidik yang dibutuhkan lebih banyak. kedua, fokus pendidikan yang terbentuk lebih mengasah ptensi anak, siswa lebih mersa enjoy dengan pendidikannya yang lebih membuat anak itu tertarik, output yang dihasilkan : 1, kemampuan anak hanya terbatas pada satu aspek dengan level kemampuan yang optimal. 2, dengan fokus potensi, pembagian aspek kinerja pasca kelulusan embuat berbagai pihak lebih puas dan tidak perlu mengadakan penataran ulang walaupun jumlah pekerja yang dibutuhkan menjadi lebih banyak.
Mari kita lepaskan beban anak-anak terhadap suatu standar nilai dan kita alihkan menjadi "melihat bagaimana anak itu membuahkan sesuatu, bagaimana anak itu menanggapi lingkungan secara umum, bagaimana anak itu menguasai aspek yang dia minati, dan bagaimana perkembangan potensi anak itu dari awal hingga akhir . saya yakin suatu hal yang dijalani dengan menyenangkan akan lebih memberi dampak lebih baik(dengan penanaman nilai-nilai kehidupan dan ideologis tentunya) daripada pendidikan yang terpaku pada suatu target-target nilai yang mempengaruhi kelulusan siswa itu sendiri. " kesadaran belajar itu perlu diciptakan tapi tanpa paksaan"."SEMOGA KITA TERMASUK ORANG2 YANG PEDULI TERHADAP PONDASI RUMAH".
Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan - Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.
Bagaimana dengan pendidikan di Indonesia?
Apakah pendidikan di Indonesia memperhatikan permasalahan detail seperti ini? Inilah salah satu kesalahan terbesar metode pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Pendidikan kita sangat tidak memperhatikan aspek afektif (merasa), sehingga kita hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang pintar tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sudah 45 tahun Indonesia merdeka, dan setiap tahunnya keluar ribuan hingga jutaan kaum intelektual. Tapi tak kuasa mengubah nasib bangsa ini. Maka pasti ada yang salah dengan sistem pendidikan yang kita kembangkan hingga saat ini.
Kesalahan kedua, sistem pendidikan yang top-down atau dari atas kebawah. Freire menyebutnya dengan banking-system. Dalam artian peserta didik dianggap sebagai safe-deposit-box dimana guru mentransfer bahan ajar kepada peserta didik. Dan sewaktu-waktu jika itu diperlukan maka akan diambil dan dipergunakan. Jadi peserta didik hanya menampung apa yang disampaikan guru tanpa mencoba untuk berpikir lebih jauh tentang apa yang diterimanya, atau minimal terjadi proses seleksi kritis tentang bahan ajar yang ia terima. Dalam istilah bahasa arab pendidikan seperti ini dikatakan sebagai taqlid. Artinya menerima atau mengikuti apa saja yang dikatakan oleh para pendidik. Dan ini tidak sejalan dengan substansi pendidikan yang membebaskan manusia (Ki Hajar Dewantara).
Kesalahan ketiga, Saat ini terjadi penyempitan makna dari pendidikan itu sendiri ketika istilah-istilah industri mulai meracuni istilah istilah pendidikan. Di tandai dengan bergantinya manusia menjadi Sumber Daya Manusia (SDM).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan berbau intimidasi atau SARA YA...