Kita Ada Karena Perbedaan
Kita Ada Untuk Memerangi Kesalahan SYSTEM
Guyub Rukun Berjuang Bersama
(Bukan OMEK)
Selasa, 28 September 2010
CELOTEH MENGGELITIK KENTAL FILOSOFI
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."Nasrudin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."Dan Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
*API !
Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
Api ! Api ! Api !
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
*YANG BENAR-BENAR BENAR
Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
*TAMPAK SEPERTI WUJUDMU
Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.
"Oh kasih yang agung.Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.Segala yang tampak oleh mataku.Tampak seperti wujud-Mu."
Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?"
Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten:"Tampak seperti wujudmu."
*MIMPI RELIJIUS Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan pastur dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling relijius. Tidurlah mereka.
Pagi harinya, saat bangun, pastur bercerita: "Aku bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang istimewa sekali."
Yogi menukas, "Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling damai."
Nasrudin berkata, "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun, dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar, makanlah roti itu.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga."
*NASIB DAN ASUMSI
"Apa artinya nasib, Mullah ?"
"Asumsi-asumsi."
"Bagaimana ?"
"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."
*ORIENTASI PADA BAJU
Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.
"Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku," ujar Nasrudin ringan.
Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Nasrudin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara itu, Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya.
Sampai rumah, Nasrudin tetap kering.
"Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, "Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!"
"Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju."
*MENJUAL TANGGA
Nasrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga memergokinya.
"Sedang apa kau, Nasrudin ?"
Nasrudin berimprovisasi, "Aku ... punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual."
"Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!" kata sang tetangga, marah.
Nasrudin bergaya filosof. "Tangga, bisa dijual di mana saja."
*HARMONI BUAH-BUAHAN
Nasrudin bersantai di bawah pohon arbei di kebunnya. Dilihatnya seluruh kebun, terutama tanaman labu yang mulai berbuah besar-besar dan ranum. Seperti biasa, Nasrudin merenung.
"Aku heran, apa sebabnya pohon arbei sebesar ini hanya bisa menghasilkan buah yang kecil. Padahal, labu yang merambat dan mudah patah saja bisa menghasilkan buah yang besar-besar."
Angin kecil bertiup. Ranting arbei bergerak dan saling bergesekan. Sebiji buah arbei jatuh tepat di kepala Nasrudin yang sedang tidak bersorban.
"Ah. Kurasa aku tahu sebabnya."
*YANG TERSULIT
Salah seorang murid Nasrudin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?"
"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Nasruddin.
"Apa itu?"
"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."
*SAMA RATA SAMA RASA
Seorang filosof menyampaikan pendapat, "Segala sesuatu harus dibagi sama rata."
Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata seorang pendengar yang skeptik.
"Tapi pernahkah engkau mencobanya ?" balas sang filosof.
"Aku pernah," sahut Nasrudin, "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan."
"Bagus sekali," kata sang filosof, "Dan bagaimana hasilnya ?"
"Hasilnya ? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk."
*HARGA KEBENARAN
Seperti biasanya, Nasrudin memberikan pengajaran di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."
Seorang murid bertanya, "Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?
"Kalau engkau perhatikan," sahut Nasrudin, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia."
*JANGAN TERLALU DALAM
Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.
Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.
Nasrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Nasrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Nasrudin.
*MISKIN DAN SEPI
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.
Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
*JATUH KE KOLAM
Nasrudin hampir terjatuh ke kolam. Tapi orang yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat. Namun setelah itu, setiap kali bertemu Nasrudin orang itu selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berterima kasih berulang-ulang.
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini Nasrudin langsung melompat ke air.
"Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana!"
*RELATIVITAS KEJU
Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,
"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.
"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."
Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.
"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin.
"Tidak ada lagi," kata istrinya.
Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."
"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"
"Itu tergantung," sambut Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."
*PELAYAN RAJA
Nasrudin menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali.
"Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?" tanya raja kepada Nasrudin."Teramat baik, Tuanku."
Maka raja meminta dimasakkan sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk yang kesepuluh kali memasak masakan yang sama, raja berteriak:
"Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!""Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku." ujar Nasrudin."Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik.""Memang benar. Tapi saya pelayan raja, bukan pelayan sayuran."
*HIDANGAN UNTUK BAJU (1)
Nasrudin menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa Nasrudin pulang kembali.
Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuang Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.
Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!"
Untuk mana ia memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku."
*HIDANGAN UNTUK BAJU (2)
Nasrudin menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya sedang asyik makan. Namun, di samping makan sebanyak-banyaknya, ia sibuk pula mengisi kantong bajunya dengan makanan.
Melihat kerakusan sahabatnya, Nasrudin mengambil teko berisi air. Diam-dian, diisinya kantong baju sahabatnya dengan air. Tentu saja sahabatnya itu terkejut, dan berteriak,
"Hai Nasrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi air!"
"Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat," jawab Nasrudin, "Karena tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka aku khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya."
*MENJEMUR BAJU
Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampung yang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk mengeluh,
"Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah. Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan beberapa kantong lagi. Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan."
Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Maka datanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki. Total terkumpul hanya setengah ember air.
Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut,
"Mullah ! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!"
Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira.
"Bajuku hanya satu ini," kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, "Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!"
*BAHASA BURUNG
Dalam pengembaraannya, Nasrudin singgah di ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Nasrudin telah menguasai bahasa burung-burung. Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Nasrudin ke istana.
Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak di dekat istana. Bertanyalah raja pada Nasrudin, "Coba katakan, apa yang diucapkan burung hantu itu!"
Ia mengatakan," kata Nasrudin, "Jika raja tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera runtuh seperti sarangnya."
*KEKEKALAN MASSA
Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."
Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.
"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"
Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"
Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras,
"Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"
*PERIUK BERANAK
Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.
"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."
Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.
Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,
Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan."
Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!"
"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya
Selasa, 15 Juni 2010
Budaya Kebersamaan
Budaya makan enggak makan asal kumpul, gemeinschaft (paguyuban) atau mezzo-structures suatu bentuk interaksi sosial kekeluargaan, solidaritas sosial, perasaan menjadi satu kesatuan dalam rasa sepenanggungan, tenggang rasa atau tepa selira dengan nilai-nilai moral berupa penghormatan sesama manusia, tanggung jawab, kejujuran, kerukunan, dan kesetiakawanan. Disadari ataupun tidak disadari akhir-akhir ini telah menjauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Kebersamaan yang indah yang mulai terkikis oleh budaya-budaya individualis. Pandangan hidup yang mengagung-agungkan kebebasan personal yang mendorong manusia untuk mendahulukan kepentingan dan kebebasan pribadi tanpa memikirkan hak-hak orang lain. Sikap ini acapkali menjerumuskan manusia ke dalam perbenturan dengan pihak lain dalam hidup sosial. Penyanjung kebebasan seakan-akan tinggal di luar entitas sosial dan seolah-olah mereka tidak berdampingan dengan sesama. Keberadaan budaya kebersamaan sekarang lebih menjadi nilai-nilai yang semu dan artifisial, Menjauh dari titik nyatanya dan hanya sekedar simbol dipermukaan. Pudarnya nilai-nilai luhur telah menjadikan masyarakat Indonesia menjadi ‘kasar’ dan tanpa perasaan, dan semakin menguat manakala hukum tidak lagi mempunyai kewibawaan untuk mengatur Kita. Jika terus sperti ini, apakah kita masih layak disebut sebagai suatu bangsa?
Bangsa pada dasarnya merupakan suatu bentuk solidaritas kolektif; yang mana lebih menonjolkan elemen kebersamaan dan tidak menyoroti masalah ketidaksamaan ataupun eksploitasi. dalam konteks definisi kelompok social, Ferdinand Tonnies mengemukakan bahwa kelompok sosial adalah suatu bentuk kehidupan bersama, dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Batasan ini disebut Tonnies sebagai paguyuban atau gemeinschaft.
Tonnies menyebutkan beberapa ciri peguyuban, yaitu; (1)intimate, hubungan menyeluruh yang mesra antar individu dalam kelompok masyarakat. (2)Private, hubungan yang bersifat pribadi antar sesama anggota masyarakat, karena faktor pertalian darah. Dan yang ketiga adalah exclusive, yakni hubungan yang tertutup antara segenap anggota masyarakat sebagai suatu paguyuban. Oleh karena itu di dalam gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu common will (kemauan bersama), dan juga ada suatu understanding (pengertian bersama), serta kaidah yang timbul dengan sendiri dari kelompok tersebut. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan (yang harmonis) antar anggota kelompok. Asas persaudaraan ini dijaga oleh institusi negara yang memiliki kemampuan menjangkau segenap anggota dari suatu bangsa. Fungsi lain dari suatu bangsa adalah merusmuskan dan menegakkan aturan permainan, entah dalam kehidupan ekonomi, dan politik, maupun kemasyarakatan yang disepakati oleh anggotanya. Bangsa dibentuk oleh unsur kebudayaan, sejarah dan warisan tradisi lain yang pernah ada sebelumnya. Dikatakan sebagai suatu solidaritas kolektif karena memiliki lambang-lambang budaya sendiri seperti bahasa yang digunakan dalam wilayah teritorial tertentu, yang sebenarnya mencerminkan suatu kesatuaan. Oleh karena itu, konsep bangsa menonjolkan persaudaraan dan atau kebersamaan.
(http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1913039-budaya-kebersamaan)
Jumat, 30 April 2010
Mahasiswa Antara Hedonisme dan Idealisme
Karena prestasi semacam itulah mahasiswa dipandang sebagai sosok yang revolusioner, agen perubahan (agent of change) dan beberapa label “suci” lainnya. Pandangan ini sebenarnya didasarkan pada catatan sejarah dan liputan media massa yang hanya menonjolkan sosok mahasiswa yang demikian. Sementara, mahasiswa yang tidak berpenampilan dan sevisi dengan itu dinilai bukan mahasiswa (baca: aktivis)
Pandangan diatas tidak bisa disalahkan. Sebab, hal itulah yang tercatat dalam sejarah Indonesia, bahkan sejarah dunia. Akan tetapi, bagaimana dengan kebayakan mahasiswa lainnya yang hanya peduli dengan dirinya sendiri; pesta, nikah, IP tinggi dan lain sebagainya?
Tak dapat dipungkiri, bahwa mahasiswa adalah anak muda yang dipenuhi dengan idealisme. Sebagai anak muda, mahasiswa berada dalam tarik menarik antara dua kutub yang berlawanan. Pada biasanya mereka idealis dan suka melukis mimpi yang besar-besar, sementara dalam waktu yang bersamaan mereka tidak bisa mengelak dari kebutuhan sesaat.
Karena wataknya demikian itulah, mahasiswa seringkali menyuarakan perubahan sosial secara radikal, Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan beberapa “bahasa langit” lainnya. Mereka menampilkan sosok yang sedemikian suci ini didasarkan pada argumentasi noblesse oblige. Artinnya, mereka menikmati predikat mahasiswa karena jerih payah dan keringat rakyat, maka sebagai kelompok elit mereka harus menunjukkan balas budinya dengan perbuatan-perbuatan mulia, yaitu sebagai juru bicara rakyat.
Padahal, diantara mahasiswa yang melakukan gerakan moral, sebagian besar diantara mereka justru menikmati pesta, diskotik, mobil mewah yang kesemuanya tidak mencerminkan sebagai penyambung aspirasi rakyat. Bahkan, mahasiswa gemar melancarkan aksi-aksi dan kritik terhadap pemerintah dan dalam waktu bersamaan mereka nyontek dalam waktu ujian.
Inilah fenomena obyektif mahasiswa sebagai kalangan anak muda. Membaca dan memberikan label terhadap mahasiswa sebagai “pendekar”. Sebagai anak muda, secara psikologis, mahasiswa menyukai enjoy life (pesta dan cinta), oreintasi status (jabatan pemerintah), external locus of control (meletakkan kesuksesan pada nasib dari pada kerja), bypass disease (jalan pintas) dan tingkat ketergantungan yang tinggi. Karena psikologi anak muda demikian, maka aksi-aksi mereka terkadang hanya menjadi batu loncatan untuk meraih jabatan tertentu. Banyak diantara para aktivis mahasiwa yang kini menjadi pengurus partai bahkan menjadi anggota legislatif. Sebagian yang lain masih enjoy menikmati buah cinta dan lain sebagainya.
Karena itulah, memandang mahasiswa sebagai sosok suci, “malaikat”perlu dibaca ulang. Jika, dulu, Soekarno menanamkan benih-benih nasionalisme kepada rakyat Indonesia, tetapi sebagian besar diantara mereka enjoy dengan sifat dan psikologi kepemudaannya. Singkatnya, mahasiswa bukan sekedar sosok yang suci dan malaikat yang memperjuangkan rakyat Indonesia.
Jika demikian, harapan yang besar terhadap mahasiswa untuk melakukan gerakan moral dalam menghadapi pemerintah dan memperjuangkan hak-hak rakyat sulit digeneralisasi kepada mahasiswa secara keseluruhan. Kita tidak perlu berharap banyak terhadap kalangan mahasiswa. Sebab, disamping kini menghadapi perbedaan kepentingan diantara elemen mahasiswa, juga aksi-aksi yang mereka lakukan acapkali tidak absen dari kepentingan tertentu dan sebagai upaya untuk menonjolkan diri sendiri (popularitas). Dengan popularitas yang diraih melalui aksi turun jalan (demonstrasi), mereka sebenarnya berharap untuk mendapatkan kesuksesan dan dipandang semua orang bahwa dirinya adalah orang yang membela kepentingan rakyat. Akhirnya, mereka bisa melakukan tawar-menawar politik untuk sebuah jabatan tertentu.
Hal ini tidak bermaksud untuk memandang negatif terhadap mahasiswa. Tetapi sebagai upaya menjelaskan secara obyektif dan apa adanya kondisi mahasiswa. Tanpa ada keterangan yang mendetail tentang mahasiswa, akhirnya rakyat Indonesia terlalu berharap banyak terhadap kawula muda. Sebab, para aktivis yang kerapkali turun jalan kini tengah menghadapi pembungkaman dalam internal kampus. Mahasiswa dalam pengertian birokrasi kampus adalah orang-orang yang taat dosen, capat menyelesaikan studi, dan tidak peduli dengan kehidupan sosial/budaya/ekonomi dan politik bangsa Indonesia. Inikah, implementasi tridharma Perguruan Tinggi.
Redefinisi Makna Aktivis
Disamping itu, istilah pergerakan atau gerakan seringkali hanya dimaknai dengan aksi turun jalan, demonstrasi menyuarakan sebuah aspirasi tertentu. Bahkan, kader yang militan dalam pemaknaan Organisasi Kepemudaan (OKP) adalah orang-orang yang aktif melakukan aksi turun jalan, happening art, dan beberapa aksi jalanan lainnya. Karenanya ia disebut sebagai “aktivis” yang dipenuhi semangat heroisme untuk membela kepentingan rakyat.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak aktif dijalanan tidak dikategorikan sebagai aktivis pergerakan atau “kader militan”. Kelompok-kelompok mahasiswa yang aktif di Lembaga Pers, penulis, budayawan, sastrawan dan lain sebagainya sama sekali tidak dikategorikan sebagai aksi-aksi gerakan moral, walaupun apa yang disuarakan mereka juga memiliki sinergisitas dan pesan yang sama dengan apa yang diperjuangkan “kader jalanan”. Karena itulah, tidak sedikit diantara mahasiswa yang memiliki cita-cita untuk menjadi aktivis jalanan, dengan mengesampingkan kuliah, nilai baik dan ilmu pengetahuan.
Pemaknaan yang sedemikian sempit ini tentu tidak bisa dipersalahkan. Sebab, yang menonjol diantara mahasiswa adalah mereka yang bisa melakukan aksi turun jalan. Akan tetapi, mengikuti pengertian gerakan yang disempit diatas tentu akan membawa akibat yang tidak remeh. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan selain jalanan akan hengkang (tidak aktif) atau bahkan tidak berminat untuk mengikuti organisasi pergerakan mahasiswa seperti PMII, HMI, IMM, KAMMI dan lain sebagainya.
Lihat saja ketika organisasi kepemudaan diatas membuka pendaftaran (Pelatihan Kader Dasar, PKD/Latihan Kader, LK/Darul Arqom, DA dsb) cukup banyak diminati mahasiswa, tetapi pasca itu jumlah mahasiswa yang aktif diorganisasi tersebut semakin surut. Semakin minimnya mahasiswa yang aktif diorganisasi pergerakan dikarenakan tidak tersedianya ruang dalam organisasi tersebut. Padahal diakui atau tidak, mahasiswa yang memiliki kecenderungan diluar itu sangatlah tumpah ruah.
Disamping itu, gerakan moral saat ini nyaris sama dengan gerakan politik. Sebab, lazimnya, mahasiswa hanya mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Sementara, hal-hal diluar itu yang menjadi problem bangsa jarang disentuh oleh kalangan mahasiswa. Bencana alam, kemiskinan, pengangguran, buruknya pendidikan dan lain sebagainya tidak mendapat ruang yang istimewa dihati mahasiswa.
Dalam kerangka itulah, memaknai ulang terhadap gerakan atau pergerakan sangatlah penting. Hal ini dimaksudkan untuk; pertama, terjalinnya kerjasama diantara elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, antara aktivis jalanan dengan jurnalis, penulis dan budayawan. Kerjasama diantara elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda ini sangatlah penting dilakukan. Sebab, aksi turun jalan untuk menyuarakan aspirasi tertentu tidaklah se-efektif pada tahun 1998.
Bahkan tidak jarang, sebagian masyarakat merasa risih dengan aksi turun jalan yang dilakukan oleh mahasiswa. Singkatnya, aksi turun jalan bukanlah satu-satunya cara untuk menyuarakan aspirasi tertentu. Melalui tulisan dimedia massa, pamflet, happening art, orasi budaya juga bisa menjadi cara untuk menyalurkan aspirasi tertentu. Disinilah, titik singgung dan sinergisitas antar elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda.
Kedua, masa depan gerakan mahasiswa. Kedepan, mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada aksi-aksi gerakan moral dijalanan, tetapi juga bisa mengisi dan siap melanjutkan estafet pemerintah kearah yang lebih baik. Karena itulah, mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda bisa menjadi partner yang baik dalam melakukan aksi-aksi kemanusiaan, menyelesaikan persoalan bangsa dan Negara [Hatim Gazali]forward from Hatim Gazali under Artikel, Manuskrip :Mahasiswa Antara Hedonisme dan Idealisme
Selasa, 02 Februari 2010
mengerti PEMAKZULAN
Pemakzulan berlaku di bawah undang-undang konstitusi di banyak negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Brasil, Rusia, Filipina, dan Republik Irlandia.(wikipedia.com)
MK Sahkan Tata Cara Pemakzulan
Rabu, 6 Januari 2010 | 20:48 WIB
TERKAIT:
* Ada Tiga Jenis Amar Putusan MK Terkait Pemakzulan Presiden-Wapres
* MK Publikasikan Peraturan Pedoman Beracara Terkait Pemakzulan Presiden-Wapres
* Pemakzulan terhadap Presiden Takkan Dilupakan
* Materi Pemakzulan Presiden Masih Jadi Polemik
* Hatta Rajasa: Pemakzulan SBY Sekadar Wacana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mahkamah Konstitusi mengesahkan tata cara impeachment atau pemakzulan dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 21 Tahun 2009 tentang Hukum Acara Impeachment pada 31 Desember 2009. Dalam aturan ini dijelaskan pemakzulan terhadap presiden maupun wakil presiden dapat dilakukan secara terpisah atau bersama-sama.
Peraturam Mahkamah Konstitusi (PMK) itu mengatur bahwa pemakzulan diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kepada Mahkamah Konstitusi (MK), baik secara langsung atau melalui wakil yang ditunjuk. Akan tetapi, keputusan MK dalam hal ini hanya menyatakan presiden atau wakil presiden termakzul bersalah atau tidak.
"MK tidak punya wewenang memberi sanksi maupun melepas jabatan. Wewenang itu sepenuhnya berada pada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)," kata Ketua MK Mahfud MD usai menerima Anugerah UII di Yogyakarta, Rabu (6/1/2010).
Menurut Mahfud, terdapat dua pokok penting dalam PMK tentang Hukum Acara Pemakzulan tersebut. Pokok pertama adalah proses hukum pidana kepada pihak termakzul tetap dapat berlangsung selama proses pemakzulan berlangsung di MK. Seperti keputusan lainnya, proses pemakzulan di MK paling lama memakan waktu 90 hari.
Hal ini karena proses pemakzulan dan proses hukum pidana merupakan dua jalur yang berbeda. Pemakzulan merupakan proses hukum tatanegara yang merupakan keputusan politis dan tidak berkaitan dengan hukum pidana maupun perdata.
Adapun pokok penting kedua adalah, presiden maupun wakil presiden yang sedang dalam proses pemakzulan dapat diwakilkan. Apabila proses pemakzulan berakhir dengan pencopotan jabatan, maka MPR harus segera menunjuk gantinya paling lama dalam waktu 60 hari.
Mahfud menyangkal pengesahan PMK tentang Hukum Acara Impeachment karena MK telah menerima pengajuan pemakzulan. Pengesahan dilakukan untuk menghindari politisasi terhadap MK, yaitu justru saat kondisi masih netral dan belum ada pemikiran ke arah tersebut.
"Kalau hukum acara pemakzulan ini disahkan saat sudah ada pengajuan atau pemikiran ke arah sana, bisa-bisa MK dituduh membuat pengesahan demi mendukung atau justru menjatuhkan presiden atau wakilnya," tuturnya.
Lebih lanjut Mahfud menerangkan bahwa rancangan PMK mengenai Hukum Acara Impeachment itu sudah ada sejak MK dipimpin oleh Jimly Asshiddiqie. "Namun saat itu belum dapat disahkan karena belum tercapai kesepakatan siapa yang seharusnya menuntutkan pemakzulan. Sekarang sudah ada kesepakatan, yaitu DPR. Maka PMK itu segera disahkan saja," ujarnya.(kompas.com)
SIRUP DAN JAMU


Kota Batu yang terkenal dengan wisata dan udara sejuk dinginnya membawa ketertarikan banyak orang untuk tinggal dan menetap di sana. Kota yang tergolong kota baru jadi ini masih asri dan alami belum terjamah dengan tangan-tangan nakal pemuas diri seperti di kota- kota lain umumnya, membuat kita betah tinggal dan berlama-lama diteras tingkat kita. Hal inilah yang mendorong pasangan suami istri untuk menjauhkan diri dari kebisingan dan kepadatan penduduk metropolitan untuk menghabiskan masa-masa tua bersama kekasih tercinta. Desa Punten tepatnya, desa yang dihuni penduduk penghasil dan penjual bunga. Kehidupan penduduk disana sangat rukun dan saling gotong royng dalam segala hal, layaknya penduduk- penduduk desa lainnya.
Pagi yang cerah, indah dan menyejukkan hati gini enaknya ngapain ya ? celetuk seorang kakek bertanya pada istrinya. Iya kek ya … enaknya ngapain ya ?? sahut nenek kebingungan. Thing… aku ada ide kek, gimana klo kita buat sirup aja ? kata nenek. Ok ! jawab kakek. Nenek pun bergegas ke dapur dan menyiapkan segalanya untuk pasangan seumur hidupnya itu. 15 menit waktu berselang, nenek muncul dari balik pintu dengan dua cangkir sirup di tambah beberapa strip roti selai yang membuat perut kakek makin keroncongan. Seteguk demi seteguk kakek menikmati manisnya sirup seperti manisnya hidup mereka yang bergelimang harta. Karena ketagihan akan manisnya sirup, pasangan itu tiap hari melewati hidupnya dengan 5-7 cangkir sirup. Begitu pula dengan anak-anak dan cucu-cucu mereka yang tinggal di Jakarta, semuanya menjadi pecinta sirup dengan selera rasa masing-masing
Berbeda dengan tetangganya yang sangat suka minum sirup, Pak Toyo dan istrinya selalu minum jamu tiap pagi. Kebiasaan itu diturunkan pula pada anak-anak mereka dari kecil. Hidup mereka sebenarnya sangat baik, pada waktu muda Pak Toyo adalah seorang konraktor handal yang berhasil membangun ratusan gedung- gedung pencakar langit di kota-kota besar. Tiap pagi di meja makan selalu ada aneka macam jamu dari kunyit sampai kencur yang diambil dari kebun yang sengaja mereka tanam tumbuh-tumbuhan yang menjadi bahan jamu tak seperti tetangga mereka yang lebih suka menanam bunga. racik Sampai pada suatu waktu sang anak sulung merasa bosan minum jamu dan ingin minum sirup tiap hari seperti kakek yang tinggal disebelah rumahnya. “Yah, kenapa sih kita minum jamuuu melulu tiap pagi ? ayah tau gak sih kalo jamu itu pahitnya minta ampun? “ gerutu Si Sulung. Sang ayah hanya tersenyum, dan berkata “ kamu pasti dapat jawabnya nanti nak”.
5 tahun semenjak itu….
Kakek nenek pecinta sirup mengalami duka yang mendalam karena mereka di vonis mengidap penyakit diabetes dan kanker yang sangat ganas. Tubuh mereka sekarang semakin mengurus dari hari kehari, anak cucu mereka yang tinggal di Jakarta iba dan berduka melihat ayah-ibu /kakek-nenek mereka seperti itu. Hingga akhirnya mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Anak cucunya hanya bias tertunduk, meratapi kepergian keluarga tercintanya itu. Hanya 1 pesan singkat yang pasangan kakek nenek itu berikan pada semua anak cucu mereka. Mereka hanya berkata :
“ anak-anak dan cucu-cucu ku yang kucintai… jangan kau iringi kepergianku nanti hanya dengan tangis, tapi iringi kepergianku dengan merubah kebiasaan buruk yang telah kutanamkan sejak kecil pada kalian di pagi hari. Sesungguhnya pahitlah yang membuat hidup kita lebih baik”
Anak kakek nenek yang di tinggalkan tersebut tak mengetahui apa maksud perkataan pasangan sehidup se-mati itu…hingga bertanya pada tetangga sebelah yang ikut merawat kedua orang tuanya itu sebelum kedatangan mereka ke Kota Batu.
Keluarga pak Toyo yang juga membantu merawat kakek nenek tersebut mendapat ucapan banyak terima kasih dari anak-anak tetangganya itu karena telah banyak membantu merawa orang tuanya. Tapi mereka merasa aneh akan diri pak Toyo dan mulai bertanya, “ pak, apa sih resepnya supaya tetap bugar di Usia senja(80th) seperti bapak ?”. Pak toyo yang didampingi istri dan anak sulungnya menjawab dengan logat jawanya yang kental“jamu mbak, iya jamu yang membuat saya sebugar ini, tiap pagi saya dan keluarga biasa meminumnya… mbak dan mas mau nyoba?”. Merekapun terdiam sejenak dan kemudian menangis, sambil sesenggukan anak perempuan kakek mencium tangan Pak toyo dan berkata “terima kasih pa… Terima kasih banyak… kami tahu jawabanya”. Akhirnya anak-anak kakek-nenek itu menceritakan semua yang terjadi pada Pak Yoto sekeluarga. Kelegaanpun di terima putra sulung Pak Yoto yang selama ini bertanya dan sebel dengan kebiasaan orang tuanya akhirnya terjawab dengan secangkir jamu tiap pagi untuk anaknya dan tentunya untuk ayahnya tercinta..
---------------------------------Sekian-------------------------------------
Kawan, tahukah kalian bahwa pahitnya dunia sebenarnya merupakan pelajaran berharga bagi kita?
Tahukah kalian bahwa suatu hal yang manis itu nantinya akan menghancurkan kita semdiri jika berlebihan?
Kita anak muda jarang memikirkan hal itu, yup.. yang kita pikirkan hanya indahnya sekarang dan bagaimana kalian menikmati hidup dengan gampang dan mudah. Kita tak pernah memikirkan segala kesedihan, hanya fun and happy.
Contohnya saja, kita anak muda/ anda pada masa muda dulu akan selalu berusaha lari dari masalah, sekecil apapun masalah itu… dan kita selalu merasa berat jika cobaan datang menemui kita. Nantinya, jika kita tidak bias menelaah segala masalah dan terbiasa dengan masalah kita pasti akan tersamdung terus dan terus hingga stress akan selalu melingkupi hidup kita. Ya… positif tingking memang perlu kita lakukan agar segala hal sulit dapat kita hadapi.
Ingat segala hal pahit adalah suatu hal yang sangat baik bagi kita jika kita mengerti dan bias menanggapinya.
Rabu, 20 Januari 2010
HARMONI GAZZA
Jalur Gaza, ribuan rakyat dan anak-anak Palestina yang tak berdosa meninggal. Bahkan efek bom fosfor yang dilepaskan oleh Israel masih membekas di tubuh para korban dan kelaparan akibat blockade yang dilakukan oleh israel. Mata internasional pada saat infansi di jalur gaza seakan tertutup rapat. Entah, apa yang terbesit dalam benak para pemimpin-pemimpin dunia pada saat itu. Yup, PBB khususnya… apa kata harmoni kehidupan yang menonjolkan penyelarasan perbedaan untuk mencapai kedamaian dunia masih berlaku??
Saat melihat kepala anak-anak dibawah umur bercucuran darah, manula tertatit-tatih menyelamatkan diri dari serangan apakah itu saat harmoni berjalan dengan baik?. Manusia adalah tetap manusia, selalu ada yang kurang dalam hidupnya. Wilayah yang dititipkan pada kita oleh Sang Kholiq harusnya jadi tempat bersama yang harus di rawat dan dilestarikan dengan baik. Bukannya di jadikan sebagai ajang perebutkan untuk menunjukkan eksistensi sebuah golongan. Ingatkah kalian para pemimpin, saat mentari mulai muncul dan anak-anak kalian terbangun mencarimu?. “ ayah…ibu…” kata anak-anak kalian berulang-ulang sambil merengek. Dan kalianpun menjawab dengan penuh bahagia “ selamat pagi anakku…tenang, ayah dan ibu akan selalu disampingmu”… ( seharusnya ini yang harusnya ada di benak kalian). Sekarang pandanglah mata kalian, jika kalian menjadi rakyat palestina. Apakah kalian masih bisa mengucapkan dan menemui hal itu?
Kecelakaan, salah sasaran… apakah itu alasan yang tepat untuk menebus semua itu??. Dengan kedok mencari persembunyian atau menyerang HAMAS yang kalian sebut – sebut sebagai “TERORIS”. Sekarang, apakah yang kalian lakukan bukan suatu terror bagi rakyat palestina?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Harmoni, kata yang syarat dengan kedamaian dan ketenangan, yang akan tercipta jika mau duduk sejajar sebagai umat manusia tanpa memikirkan adanya perbedaan sedikitpun seperti yang banyak agama ajarkan. Dalam hidup, kata ini akan lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan. Banyak orang-orang tanpa kecuali kita sendiri masih saja ingin mendapat pengakuan diri di mata makhluk hidup lainnya. Kita contohkan saja kita yang ingin mendapat pasangan yang lebih baik dari pasangan kita sekarang. He…he… aku masih ingat kata-kata temanku kemarin, “ Friend, hal yang baru selalu akan tampak lebih indah… seperti baju di toko itu lho..” sambil tersenyum syarat makna.
Memang, kita sebagai manusia selalu merasa kurang atas segalanya. Tapi apakah harus mengorbankan orang lain?. Kita kembali ke HARMONI. Layaknya HARMONIKA, harmonika akan menciptakan suatu nada – nada yang indah dan dinamis jika kita meniupnya dengan tepat dan penuh perasaan. Tapi sayangnya kita belum bisa melakukannya. Andainya kita memikirkan itu, maka kita harus memulainya dari diri kita sendiri sebelum kita mengecam atau mencemooh orang lain akan tindakannya. Ya… kita harus mulai belajar mengerti, memahami arti dan tujuan dari HARMONI, menurutmu???
Minggu, 03 Januari 2010
Diesel Tua - akan kah terkenang ?

Mobil kijang keluaran 1987 bertenaga diesel merupakan mobil terbaik di masanya, banyak orang simpatik, tertarik atas bentuk dan tenaganya yang luar biasa. Bahkan sampai sekarangpun q masih sering melihat kijang tersebut lalu-lalang di jalanan protocol kota Malang. Tapi bedanya, sekarang kijang 87 itu lebih banyak mengeluarkan asap tebal. Beberapa saat yang lalu, ayahq yang hobi gonta-ganti mobil membeli mobil kijang yang serupa, karena kurang mendapat perlakuan yang baik, si kijang lambat panas tersebut jadi sering mogok. Mesin dieselnya tak sebandel masa mudanya dulu. Sekarang si kijang diesel hanyalah seonggok rongsokan yang akan enak digunakan jika mesin sudah mulai panas. Kenyamanan berkendara kijang itupun tak berdurasi lama, hanya sampai 1-3 jam si kijang diesel akan bekerja dengan baik.
Setelah itu ya… minta istirahat dulu deh!
Kenapa kita tak pernah mengoptimalkan masa muda kita dengan baik seperti kijang diesel pada masa 80-an ya?? Banyak hal yang kita damba-dambakan ternyata sudah pernah kita lakukan tapi dengan biasa-biasa saja. Di saat kita mulai bisa nyaman, damai, tenang dengan suatu hal yang indah selalu hanya sebentar?? Kenapa pula kita baaru bisa menghargai yang kita miliki dulu, setelah kita kehilangan orang/ moment tersebut??
Untuk itu, marilah kawan kita optimalkan hari ini dengan baik, sebelum kita kehilangan masa-masa itu.
YESTERDAY IS STUDY N’ WARNING…
TODAY IS GIFT N’ PRAY…
TOMORROW IS MISTERY N’ MIRACLE…
CERMIN
Dalam rumah tsb awalnya hanya ada sebuah sisir yang menjadi alat bersoleknya, dan saat banyaknya keuntungan di dapat, si tuan rumah membeli sebuah cermin yang lambat laun bersahabat dengan sisir. sebut saja si cermin yang jika diibaratkan manusia, cermin adalah seseorang yang berdiri tegak dengan tumpuan kaki2 yang kuat dan selalu di butuhkan pemilik rumah untuk bersolek dengan hasrat menyombongkan diri pada dunia atas keberhasilan dirinya.
setelah beberapa tahun si cermin dan si Sisir di gunakan, si cermin mulai brani membusungkan dadanya dan berkata pada Sisir, ” apa kabar kawaaan....bagaimana menurutmu? sudah hebatkan aq ini??”. dan dengan senyum ramah dan penuh hormat sopan Si Sisir menjawab, “ baik sobat…..sangat hebat dalam Konteks q”. mendengar ucapan sisir, cermin sedikit dongkol, ”apa maksudmu dengan HEBAT DALAM KONTEKSQ sobat? kau meragukan kemampuan Q?!! sudahlah akui saja aq lebih di pentingkan keluarga ini disbanding engkau….mau bukti??? lihatlah kawan, stiap pagi keluarga ini bergantung dengan q, mreka akan takut keluar rumah jika tak mempersiapkan dirinya di depan Q!!!
Si Cermin terus membangga-banggakan dirinya saat sisir mencoba bersabar terus mengikuti omongan penghuni muda rumah tersebut walo cermin terus menganggap sisir bukanlah siapa2 dalam hunian tsb. sampai pada batas kesabarannya sisirpun berkata pada cermin “ maaf sobat….q tak bermaksud berkata tak sopan padamu, hanya saja q perpikr dlm benakq tentangmu… sobat, pernahkah kau berfikir bahwa kau masih punya sisi yang kurang?? pernahkah kau melihat dirimu sndr sblm memberi gambaran pada orang yang berdiri di depanmu?! pernahkah pula kau menyesal karna kau telah menjadikan mereka(penghuni rumah) sombong dengan kamuflase diri mereka yang tak mreka bawa keliang lahat mreka??”.
(arti SISIR= meluruskan segala hal yang kusut/ ruwet seperti ruwetnya manusia jika berhadapan dengan kebajibannya dengan Manusia dan dengan Tuhan. CERMIN= alat yang mengingatkan kita untuk sadar bahwa didunia ini hanya inilah sebenarnya manusia, tak ada yang lebih. semua sama dalam fisik kecuali iman kitalah yang membedakan Kita)