Kita Ada Karena Perbedaan
Kita Ada Untuk Memerangi Kesalahan SYSTEM
Guyub Rukun Berjuang Bersama
(Bukan OMEK)
Minggu, 15 Mei 2011
INDONESIA APAKAH AKAN MENANGIS LAGI ???
"Minggu depan kita akan panggil Dinas Pendidikan Provinsi Jatim untuk mengklarifikasi kenapa sampai terjadi seperti itu," kata Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Fuad Mashuni kepada wartawan di Pasar Seni Lukis Indonesia di Balai Pemuda Surabaya, Minggu (15/5/2011).
Anggota dewan dari PKB ini menegaskan, dengan kejadian itu, yang menjadi korban adalah para siswa. Menurutnya, yang bertanggungjawab atas kekeliruan itu adalah semua pihak mulai dari sekolah, Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
"Ini kesalahan petugasnya, kok bisa nol. Bagaimana nasib anak-anak kita. Itu tanggung jawab sekolah dan dinas. Yang salah sekolah dan dinas tidak meneliti," tuturnya.
Fuad mengatakan, tidak menutup kemungkinan kasus yang terjadi di Surabaya juga terjadi di beberapa daerah lainnya. Ia meminta semua pihak harus bertanggungjawab dan mencarikan solusinya agar anak-anak bisa melanjutkan cita-citanya.
"Kalau anak-anak diminta mengikuti ujian paket, akan membuat psikologi anak-anak down. Yang jelas, mereka akan menjadi korban pendidikannya selama setahun," jelasnya.
Seperti yang diberitakan, dari hasil sidak Dinas Pendidikan Kota Surabaya, ditemukan 23 siswa SMKN 5 dan 3 siswa SMA di Surabaya yang nilainya ujiannya nol dan tidak masuk ke dalam entry data. Akibat kejadian itu, Dispendik Kota Surabaya melakukan verifikasi terhadap siswa yang nilainya nol.
Selasa, 12 April 2011
Kisah Bangun Pagi


Saya dan suami punya kebiasaan yang lain lagi dalam menyambut pagi. Saya biasanya dilanda kebingungan akan menu makanan yang akan saya masak hari ini, khususnya jika daftar menu lupa saya susun sebelumnya. Tidak jarang, melihat tumpukan baju kotor yang harus dicuci, juga tumpukan peralatan makan di dapur, rasanya badan ini malas bergerak. Apalagi musim hujan nan dingin seperti sekarang. Tak perlu melihat tumpukan cucian pun, pagi hari biasa disambut dengan bermalas-malasan. Ingin rasanya kembali ke balik selimut, menunggu matahari yang masih malu-malu muncul. Suami saya, seringkali lebih semangat menyambut hari baru di pagi hari, tapi juga tidak jarang bermalas-malasan di pagi hari yang dingin.
Jika melihat anak pertama kami sudah bangun dan melakukan aktivitasnya sendiri dengan semangat, rasanya malu juga. Seharusnya saya memberi contoh yang lebih baik. Bukannya memilih bermalas-malasan daripada segera melakukan aktivitas yang menjadi tanggung jawab saya. Tapi seringnya, malu itu dikalahkan rasa malas. Padahal, dalam pagi hari ada keberkahan. Seperti pepatah di kalangan orang Arab yang menyebutkan bahwa berkah itu ada di waktu pagi, albarakatu fi bukuriha.
Waktu pagi, memang menyimpan banyak keutamaan. Salah satunya adalah keutamaan zikir pagi yang dianjurkan untuk memperoleh banyak rahmat Allah SWT. “Dan sebarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang untuk mengharapkan keridhaan-Nya” (Al-Kahfi; 28).
Waktu pagi adalah waktu pergantian tugas malaikat malam dan siang. Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya bahwa waktu shubuh adalah masa di mana para malaikat malam naik ke langit digantikan dengan malaikat siang. Sungguh terasa indah jika saat-saat pergantian malaikat itu, kita sedang berada dalam kondisi taat kepada Allah swt.
Namun apa yang terjadi? Biasanya saya lebih memilih untuk bermalas-malasan. Menjalankan sholat shubuh dengan terkantuk-kantuk kemudian bermalas-malasan menunggu matahari muncul adalah hal yang tidak jarang saya lakukan. Astaghfirullahaladziim..
Waktu-waktu shubuh di pagi hari adalah waktu yang oleh para ulama dianggap sebagai waktu terbaik untuk mendalami suatu ilmu. Suasana pagi yang tenang membuat konsentrasi dan kemampuan memahami meningkat. Ibnu Jarir Ath Thabari, yang mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari selama empat puluh tahun terakhir masa usianya, melakukan murajaah akan ilmu dan ide-ide yang akan dituangkan dalam tulisannya di awal-awal shubuh. Lukman Al-Hakim pun mengingatkan anaknya tentang kemuliaan pagi dan mudahnya akal menyerap ilmu dengan mengatakan, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.”
Lihatlah! Pagi tak pernah bosan menyapa kita kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain. Suasana pagi tetaplah penuh dengan kesegaran dan kesejukan. Suasana pagi selalu membawa harapan bagi diri. Selamat pagi! Saya ingin selalu menyapa pagi dan menjadikannya momen yang baik untuk memperbaiki diri. Mudah-mudahan..
Dunia Sebuah illusi Tujuan Akhir Kehidupan
Ketika sahabat Rib’iy bin Amer radhiyallahu ’anhu ditugaskan untuk bernegosiasi dengan panglima militer Persia, Rustum, ia menjelaskan misi diutusnya ummat Islam oleh Allah subhaanahu wa ta’aala ke muka bumi. Salah satu misi tersebut dijelaskan olehnya sebagai berikut:
ابتعثنا الله لنخرج الناس من ضيق الدنيا إلى سعت الدنيا و الآخرة
”Kami (ummat Islam) diutus Allah ta’aala ke muka bumi untuk mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia menuju lapangnya dunia dan akhirat.”
Inilah salah satu misi utama ajaran Islam. Melahirkan manusia beriman yang keyakinan dan penghayatannya akan negeri akhirat sedemikian kuatnya sehingga mereka tidak pernah terkurung di dalam keterbatasan dunia yang sempit. Orang beriman selalu hidup dengan hati yang lapang sebab mereka tidak mudah terseret oleh tipuan kesenangan (maupun kesengsaraan) dunia yang fana.
Seberapa nikmatnya kesenangan dunia, maka bagi seorang mu’min tidak bisa menandingi apalagi melebihi kebahagiaan hakiki di surga akhirat kelak. Demikian pula, sedahsyat apapun kesengsaraan di dunia, maka bagi orang beriman hal itu tidak bisa menandingi apalagi melebihi penderitaan sejati di neraka akhirat kelak nanti.
Namun dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat begitu banyak manusia yang menyangka bahwa dunia sedemikian hakikinya sehingga mereka rela melakukan dan mengorbankan apapun hanya untuk meraih kesenangan fana dunia. Begitu pula mereka akan rela berbuat dan meyerahkan apapun demi terbebaskan dari penderitaan sementara dunia ini. Dan itu semua dilakukan dengan mempertaruhkan kemungkinan meraih kesenangan hakiki surga akhirat dan dengan kemungkinan malah berujung di kesengsaraan sejati neraka akhirat.
Tidak banyak manusia yang rela bersabar kehilangan surga dunia demi meraih surga akhirat. Tidak banyak orang yang rela menghadapi neraka dunia demi terbebaskan dari neraka akhirat. Hal ini cuma menunjukkan betapa tidak sabarnya manusia. Dan hal ini juga menunjukkan betapa mudahnya manusia terjebak dengan hal-hal yang zahir dari kehidupan dunia ini dan mereka tidak cukup tajam penglihatannya untuk mamandang hal-hal ghaib dari kehidupan akhirat.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7)
Para ahlud-dunya atau pencinta dunia memang merupakan kaum materialis. Mereka hanya sibuk tenggelam dalam hal-hal yang material semata. Mereka tidak pernah mau tahu dengan hal-hal yang bersifat ”behind the material”. Sebab mereka tidak sanggup menjangkaunya. Dan ketidak-sanggupan itu disebabkan oleh tidak hadirnya al-iman di dalam dadanya.
Orang beriman tentunya ingin berhasil juga di dunia. Tetapi doanya dan harapannya kepada Allah ta’aala tidak pernah berhenti hanya pada hal-hal sebatas dunia. Mereka selalu mengharapkan akhirat bersamaan dengan harapannya akan dunia.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
”Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."” (QS Al-Baqarah ayat 201)
Singkat kata, seorang mu’min adalah manusia yang lebih memilih menderita di dunia asal senang di akhirat. Sedangkan seorang kafir atau munafik lebih memilih sukses di dunia walau harus berakibat masuk neraka di akhirat kelak. Seorang mu’min berprinsip: ”Lebih baik susah sekarang asal senang belakangan.” Sedangkan seorang kafir atau munafik berprinsip: ”Yang penting kita harus senang selagi bisa. Soal neraka, yah, belum tentu juga benar-benar ada.”
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan kita ummat Islam agar jangan hendaknya tertipu oleh dunia. Hendaknya selalu sadar bahwa hakikat senang dan susah adalah di akhirat bukan di dunia. Senang di dunia tidak perlu membuat kita lupa. Susah di dunia tidak perlu membuat kita berputus asa.
Itulah sebabnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyampaikan suatu hadits yang menggambarkan salah satu episode di hari pengadilan kelak nanti. Penggambaran yang menjelaskan betapa kesenangan surga sejenak cukup membuat orang yang paling menderita sewaktu di dunia lupa samasekali akan penderitaannya. Sedangkan kesengsaraan neraka walau sekejap cukup untuk menjadikan orang yang paling nikmat sewaktu hidup di dunia tidak ingat lagi akan semua kesenangannya.
حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ
وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)
Cacatnya Wanita Penghuni Dua Surga

Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.
Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.
"Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?" Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.
"Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz."
"Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah."
"Amin, syukran doanya Ustadz."
"Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?"
"Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah."
"Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu."
"Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih," balas Fuad penuh senyum.
"Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun."
"Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar," jawab Fuad tak mau kalah.
"Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat."
"Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja."
"Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut."
"Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?"
"Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga."
"Apa saya mengenalnya Ustadz?"
"Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya."
"Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?"
"Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?"
"Belum Ustadz."
"Berarti pas sekali," tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.
"Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz."
"Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain."
"Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin."
"Amin."
"Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi."
"Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik."
"Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat."
Fuad sangat terkejut.
"Cacat maksud Ustadz bagaimana?"
"Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"
Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.
"Insya Allah, saya siap Ustadz," jawabnya dengan mantap.
"Ini keputusanmu?"
"Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya."
"Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?"
"Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah."
"Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut."
"Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat."
"Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?"
"Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang."
"O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?"
"Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama."
"Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin," ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.
Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.
"Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang."
"Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan."
"Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat."
"Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya."
"Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi."
Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat.
Taqwa & Harta

Manusia dapat memenuhi segala kebutuhannya dengan memanfaatkan karunia yang ada di bumi ataupun di laut. Tidak lain agar manusia selalu bersyukur dan menaati apa yang telah diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, mereka akan termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.
Tak merupakan puncak kemuliaan manusia. Hendaknya semua orang berlomba untuk berada di bawah bendera takwa dalam naungan Allah. Bendera takwa inilah yang diangkat dan dikibarkan oleh Islam untuk menyelamatkan manusia dan fanatisme terhadap jenis kelamin, bangsa, kabilah, atau suku, dan keluarga serta keturunan.
Abu Hurairah r.a. berkata : “Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam, pernah ditanya, ‘Siapa manusia yang paling mulia? Beliau menjawab, “Manusia yang paling mulia atau terbaik disis Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka’. Mereka berkagta, “Kami tidak bertanya tentang itu’. Beliau bersabda, “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, karena ia Nabiyullah (nabi Allah), anak dan Khalilullah (kekasih Allah, ylaitu Nabi Ibrahim)’. Mereka berkata, ‘Bukan ini kami tanyakan’. Lalu, beliau balik bertanya, “Apa kalian bertanya kepadaku tentang barang tambang orang-orang Arab? Mereka menjawab,”Ya”. Nabi Sallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda, “Yang terbaik daintara kalian pada masa jahiliyah adalah yang terbaik di dalam Islam, jika mereka faqih (paham dalam urusan agama)”. (HR.Bukhari).
“Sesungguhnya, Allah tidak melihat kepda bentuk (fisik) dan harta (kekayaan) kalian, tetapi melihat kepada hati dan amal perbuatan”. (HR.Muslim)
Tetapi, memang hanya sedikit manusia yang dapat bersyukur atas segela nikmat dan karunia yang sudah diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada manusia. Manusia banyak yang ingkar dan berbuat dzalim, durhaka, bukan hanya kepada Allah, tetapi juga terhadap mereka sendiri. Manusia banyak yang berlaku ‘isyraf’ (berlebihan) dalam segala hal, khususnya menggunakan pemberian Allah berupa kenikmatan dunia, dan tanpa mensyukuri atas pemberian-Nya.
Setiap harta dan kekayaan mereka miliki seharusnya disadari sepenuhnya itu merupakan amanat, dan titipan dari Allah Azza Wa Jalla, dan kelak harus dipertanggungjawabkan dihadapan Rabbnya. Tidak ada setitik hartapun yang dimiliki oleh manusia, yang kelak tidak dipertanggung jawabkan kepada Rabbnya. Harta yang dimiliki dan amanah itu, seharusnya untuk dapat menyempurnakan keimanan dan aqidahnya, melalui cara tidak menjadikan harta dan kekayaan sebagai ‘ilah’ (tuhan) baru.
Tidak mungkin seorang mukmin hidupnya dapat mendua.
Tidak mungkin seorang mukmin yang sejatih hidupanya menjadi ambivalen. Menjadi Allah Rabbul Aziz, tetapi sekaligus mencintai makhluk dan benda yang merupakan ciptaan-Nya. Manusia harus dapat membuktikan dalam hidupnya, bila dia seorang mukmin yang mukhlis, yaitu hanyalah mencintai Allah secara total, dan hanya menomorkan duakan, segala sesuatu selainnya.
Dewasa ini kita hidup dalam sebuah zaman dimana kebanyakan orang menganggap bahwa bertawakkal kepada Allah hanya dalam urusan ketika sudah menghadapi masalah dalam hidup. Itupun ke-tawakkal-an dalam bentuk memohon kepada Allah pertolongan saat diri telah tenggelam dalam kesulitan hidup seperti jatuh miskin atau sakit berat atau kehilangan sesuatu stau seseorang yang sangat dicintainya. Sedangkan sewaktu dia berjaya dia tidak pernah peduli untuk hidup dengan mengikuti petunjuk ilahi dan mematuhi aturan serta hukum Allah.
Ia bangga dan sangat percaya diri hidup berdasarkan hawa nafsu pribadinya dan mematuhi aturan dan hukum selain yang datang dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Mereka enggan untuk menjadikan ajaran Allah, Al-Islam, sebagai jalan hidup. Mereka lebih bangga dan percaya diri untuk menata kehidupan berdasarkan berbagai ideologi buatan manusia seperi demokrasi, nasionalisme, humanisme, liberalisme, materialisme dan sekularisme. Padahal sikap demikian menunjukkan absennya ke-tawakkal-an kepada Allah.
Dan barangsiapa yang tidak tawakkal kepada Allah berarti sama saja dengan mempersekutukan Allah dengan sesuatu selainNya alias memproklamirkan diri sebagai bagian dari kaum musyrikin. Dan menjadi bagian dari kaum musyrikin sama saja dengan menjadi loyalis kepada syetan, fihak yang semestinya seorang beriman bermusuhan dengannya dan tidak berkompromi sedkitpun dengannya.
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
”Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Faathir ayat 6)
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ
حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
”Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah hizbusy-syaithan (pasukan/golongan/partai syetan). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbusy-syaithan itulah golongan yang merugi.” (QS Al-Mujaadilah ayat)
apa benar? "WAKIL RAKYAT=KANAK2" (GUS DUR) menurutmu?
(http://www.dpr.go.id/id/berita/lain-lain/2011/apr/08/2658/dpr-ri-tetapkan-anggaran-dpr-ri-tahun-2012)
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) telah menetapkan Anggaran DPR RI Tahun 2012 sebesar Rp.3,5 Triliun terdiri kebutuhan Satuan Kerja Dewan dan Satuan Kerja Sekretariat Jenderal. “Anggaran DPR RI Tahun 2012 untuk mendukung pelaksanaan program satuan kerja yaitu Satker Dewan dan Satker Setjen,” kata Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR Indrawati Sukadis.
Dalam Sidang Paripurna yang dipimpin Ketua DPR RI Marzuki Alie, Jum’at (8/4), di Gedung Nusantara II DPR, Jakarta.
Indrawati Sukadis menyampaikan laporan BURT tentang rancangan anggaran DPR RI Tahun 2012, kebutuhan satker Dewan sebesar 1,961 Triliun, yang terdiri dari program pelaksanaan fungsi legislatif sebesar 541 Milyar, program pelaksanaan fungsi anggaran Rp.38,5 Milyar, pelaksanaan fungsi pengawasan 255 Milyar, dan program penguatan kelembagaan sebesar 1,126 Trliiun.
Selanjutnya, Indrawati politikus dari Fraksi Partai Demokrat itu, memaparkan untuk kebutuan satker Setjen sebesar 1,5 Triliun, yang terdiri dari dukungan menagemen dan pelaksana tugas teknis lainnya sebesar 199 Milyar, serta peningkatan sarana dan prasarana sebesar 1.3 Triliun.
Selain itu Indrawati juga menyampaikan jumlah usulan Rancangan Undang-Undang Tahun 2010 yang telah diajukan oleh seluruh Alat Kelengkapan Dewan sejumlah 76 RUU, yaitu RUU yang merupakan usul inisiatif DPR sebanyak 35, RUU usul inisiati Pemerintah sebanyak 26, dan RUU ratifikasi dan pemekaran sebanyak 15.
Indrawati Sukadis berharap dengan besarnya anggaran ini kinerja lembaga DPR RI dapat lebih baik, dengan diiringi komitmen seluruh alat kelengkapan Dewan untuk mewujudkan anggaran yang efektif, efesien, transparan dan akuntabel dalam memenuhi amanat aspirasi rakyat. (as)
Selasa, 25 Januari 2011
SEMOGA HARAPANKU BENAR


3 hari lagi akan menjelang PEMILU 2011. hal yang selalu kami takutkan terhadap hal ini
bukan perkara ketakutan akan kalah dalam hasil perhitungan namun kalah dalam hal mengantarkan adek2 dibawahku. namun hal ini coba ku tegarkan lewat sugesti untuk diriku. bahwa menang kalah adalah suratan takdir yang gak bisa dirubah dan ini keputusan terbaik dari allah..... nah hal ini coba ku kuatkan dalam diriku..
2 bulan kami persiapkan hal ini, karna bagi kami dan aku khususnya sangat penting
hal yang selalu kami harapakan kemenangan dr setiap usaha yg kami lakukan, se oga ini terbaik bagi kami. di angkatan yang tak mudah lagi, aku cuma bisa berdoa dan membantuku sekuat tenaga ku untuk bisa mengantarkan mereka di garis kemenangan
dalam upaya kami bukan untuk berkuasa namun untuk menjaga agar tidak terjadi namanya kekuasaan turun temurun.
meskipun kami tak sekandung atau tak sedarah, namun kebersamaan kami seperti kandung dan mengalir darah yang sama
terasa atau tidak rasa emang kami seperti saudara.... memang tidak dirasakan oleh yg lain namun aku sangat terasa. sedikita harapanku untuk ini. bisa mensukseskan mereka dengan sebuah hasil yang maksimal
ini yang terakhir bagiku sebelum ku lulus dan menggapai gelar sarjananku
semoga harapan buruk menjauh dr mindset q
dan harapa baik sesuai apa yg kuinginkan menjadi terkabul
dan satu doa ku :
ya allah jika kau berkehendak, kabulkan doaku
bila kau yang menentukan kabulkan doaku
jika kami memang terbaik kabulkan harapanku
berikalah kami yang terbaik setiap apa yg kami lakukan
dan itu saja yg dapat kulakukan dibalik semua cemas lu
Senin, 03 Januari 2011
PENDIDIKAN (ILMU ATAU NILAI)
THEY ARE MADE STUPID BY EDUCATION...
(BERTRAND RUSSELL)
Semenjak kecil kita telah diajarkan untuk berekspresi terhadap dunia. disaat banyak orang menggoda kita yang dalam timangan ayah/ibu, kita akan tersenyum. disaat kita lapar atau kurangnyaman dengan iritasi akibat ompol yang menggumpal di celana kita akan menangis. hingga disaat kita beranjak besar, kita diajarkan untuk merangkak, berguling, berjalan dan berbicara.
Pertumbuhan dan proses belajarpun masih terus berlanjut ketika kita sudah bisa akan hal sebelumnnya. ayah dan ibu mulai mengajari kita bagaimana merespon alam dan lingkungan sekitar dengan landasan praktis dan ideologis. dengan telaten, ayah/ibu menjawab celoteh-celoteh aneh yang kita keluarkan disaat mulai berbicara dan mulai memahami lingkungan sekitar. "apa itu bu/yah, kok bisa itu bu/yah, bagaimana itu bu/bagaimana itu yah??" dan masih banyak lagi. proses itupun terus dan terus berlanjut...
Penanaman awal merupakan suatu pondasi yang menentukan apakah suatu bangunan itu akan tahan lama atau tidak. layaknya pendidikan, bagaimana seorang orang tua/ guru/ pendidik mentransfer ilmu, memberikan pemahaman, pengertian, membuat peserta didik penasaran dengan suatu teori atau menanggapi lingkungan dengan kritis merupakan suatu hal penting dalam membangun sebuah pondasi pemikiran kritis dalam pendidikan yang akan melahirkan rumah (lahirnya intelektual baru) yang detail.
kesadaran n kuntuinitas kita dalam menanggapi alam dan lingkungan sekitar agaknya perlu kita telaah lebih dalam, sebagai mudal awal kita dalam mendidik dalam konteks internal keluarga, lingkungan pendidikan informal maupun lingkungan pendidikan formal. kenapa kita perlu menelaah??
dalam sekolah, tiap hari kita belajar, belajar dan belajar. banyak hal yang kita ketahui dari teori, keadaan lingkungan sekitar hingga bagaimana lingkungan itu membuahkan sebuah teori. sayangnya, motivasi belajar kita terpacu karena adanya target-target dari sekolah. daari pemenuhan Standar kompetensi dan kemampuan dasar. sehingga, hal ini mungkin membuat kita slepas dari lingkungan pendidikan menjadi output pendidikan yang berintelektualitas tapi tak bisa memberikan kontribusi atau merubah lingkungan kita menjadi lebih baik. terkadang selepas kita keluar dari dunia pendidikan kita lupa akan apa yang menjadi investasi(ilmu) kita selama dalam pendidikan atupun pembelajaran dan tak pelak kita akan hanya memiliki secarik kertas yang menunjukkan kita memiliki gelar atau daftar nilai yang katanya menunjukkan tingkat kemampuan kita saja

sekarang mari coba kita bayangkan dan rasakan bersama-sama, jika SK(standar kompetensi) dan KD (kemampuan dasar) coba kita kesampingkan, fokus dirubah menuju bagaimana potensi seorang anak itu difasilitasi dan dikembangkan seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu kita lakukan dulu. layaknya kita memahami kata-kata "guru-guru kita bahwa pendidikan itu untuk mencari ilmu bukan nilai yang ternyata hanya menjadi konsep saja".pertama, mungkin kelas akan terbagi menjadi banyak kelompok, biaya yang dibutuhkan akan meningkat, jumlah pendidik yang dibutuhkan lebih banyak. kedua, fokus pendidikan yang terbentuk lebih mengasah ptensi anak, siswa lebih mersa enjoy dengan pendidikannya yang lebih membuat anak itu tertarik, output yang dihasilkan : 1, kemampuan anak hanya terbatas pada satu aspek dengan level kemampuan yang optimal. 2, dengan fokus potensi, pembagian aspek kinerja pasca kelulusan embuat berbagai pihak lebih puas dan tidak perlu mengadakan penataran ulang walaupun jumlah pekerja yang dibutuhkan menjadi lebih banyak.
Mari kita lepaskan beban anak-anak terhadap suatu standar nilai dan kita alihkan menjadi "melihat bagaimana anak itu membuahkan sesuatu, bagaimana anak itu menanggapi lingkungan secara umum, bagaimana anak itu menguasai aspek yang dia minati, dan bagaimana perkembangan potensi anak itu dari awal hingga akhir . saya yakin suatu hal yang dijalani dengan menyenangkan akan lebih memberi dampak lebih baik(dengan penanaman nilai-nilai kehidupan dan ideologis tentunya) daripada pendidikan yang terpaku pada suatu target-target nilai yang mempengaruhi kelulusan siswa itu sendiri. " kesadaran belajar itu perlu diciptakan tapi tanpa paksaan"."SEMOGA KITA TERMASUK ORANG2 YANG PEDULI TERHADAP PONDASI RUMAH".
Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan - Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.
Bagaimana dengan pendidikan di Indonesia?
Apakah pendidikan di Indonesia memperhatikan permasalahan detail seperti ini? Inilah salah satu kesalahan terbesar metode pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Pendidikan kita sangat tidak memperhatikan aspek afektif (merasa), sehingga kita hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang pintar tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sudah 45 tahun Indonesia merdeka, dan setiap tahunnya keluar ribuan hingga jutaan kaum intelektual. Tapi tak kuasa mengubah nasib bangsa ini. Maka pasti ada yang salah dengan sistem pendidikan yang kita kembangkan hingga saat ini.
Kesalahan kedua, sistem pendidikan yang top-down atau dari atas kebawah. Freire menyebutnya dengan banking-system. Dalam artian peserta didik dianggap sebagai safe-deposit-box dimana guru mentransfer bahan ajar kepada peserta didik. Dan sewaktu-waktu jika itu diperlukan maka akan diambil dan dipergunakan. Jadi peserta didik hanya menampung apa yang disampaikan guru tanpa mencoba untuk berpikir lebih jauh tentang apa yang diterimanya, atau minimal terjadi proses seleksi kritis tentang bahan ajar yang ia terima. Dalam istilah bahasa arab pendidikan seperti ini dikatakan sebagai taqlid. Artinya menerima atau mengikuti apa saja yang dikatakan oleh para pendidik. Dan ini tidak sejalan dengan substansi pendidikan yang membebaskan manusia (Ki Hajar Dewantara).
Kesalahan ketiga, Saat ini terjadi penyempitan makna dari pendidikan itu sendiri ketika istilah-istilah industri mulai meracuni istilah istilah pendidikan. Di tandai dengan bergantinya manusia menjadi Sumber Daya Manusia (SDM).
Selasa, 28 September 2010
CELOTEH MENGGELITIK KENTAL FILOSOFI
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."Nasrudin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."Dan Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
*API !
Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
Api ! Api ! Api !
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
*YANG BENAR-BENAR BENAR
Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
*TAMPAK SEPERTI WUJUDMU
Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.
"Oh kasih yang agung.Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.Segala yang tampak oleh mataku.Tampak seperti wujud-Mu."
Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?"
Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten:"Tampak seperti wujudmu."
*MIMPI RELIJIUS Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan pastur dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling relijius. Tidurlah mereka.
Pagi harinya, saat bangun, pastur bercerita: "Aku bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang istimewa sekali."
Yogi menukas, "Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling damai."
Nasrudin berkata, "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun, dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar, makanlah roti itu.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga."
*NASIB DAN ASUMSI
"Apa artinya nasib, Mullah ?"
"Asumsi-asumsi."
"Bagaimana ?"
"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."
*ORIENTASI PADA BAJU
Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.
"Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku," ujar Nasrudin ringan.
Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Nasrudin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara itu, Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya.
Sampai rumah, Nasrudin tetap kering.
"Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, "Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!"
"Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju."
*MENJUAL TANGGA
Nasrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga memergokinya.
"Sedang apa kau, Nasrudin ?"
Nasrudin berimprovisasi, "Aku ... punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual."
"Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!" kata sang tetangga, marah.
Nasrudin bergaya filosof. "Tangga, bisa dijual di mana saja."
*HARMONI BUAH-BUAHAN
Nasrudin bersantai di bawah pohon arbei di kebunnya. Dilihatnya seluruh kebun, terutama tanaman labu yang mulai berbuah besar-besar dan ranum. Seperti biasa, Nasrudin merenung.
"Aku heran, apa sebabnya pohon arbei sebesar ini hanya bisa menghasilkan buah yang kecil. Padahal, labu yang merambat dan mudah patah saja bisa menghasilkan buah yang besar-besar."
Angin kecil bertiup. Ranting arbei bergerak dan saling bergesekan. Sebiji buah arbei jatuh tepat di kepala Nasrudin yang sedang tidak bersorban.
"Ah. Kurasa aku tahu sebabnya."
*YANG TERSULIT
Salah seorang murid Nasrudin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?"
"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Nasruddin.
"Apa itu?"
"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."
*SAMA RATA SAMA RASA
Seorang filosof menyampaikan pendapat, "Segala sesuatu harus dibagi sama rata."
Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata seorang pendengar yang skeptik.
"Tapi pernahkah engkau mencobanya ?" balas sang filosof.
"Aku pernah," sahut Nasrudin, "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan."
"Bagus sekali," kata sang filosof, "Dan bagaimana hasilnya ?"
"Hasilnya ? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk."
*HARGA KEBENARAN
Seperti biasanya, Nasrudin memberikan pengajaran di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."
Seorang murid bertanya, "Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?
"Kalau engkau perhatikan," sahut Nasrudin, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia."
*JANGAN TERLALU DALAM
Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.
Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.
Nasrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Nasrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Nasrudin.
*MISKIN DAN SEPI
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.
Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
*JATUH KE KOLAM
Nasrudin hampir terjatuh ke kolam. Tapi orang yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat. Namun setelah itu, setiap kali bertemu Nasrudin orang itu selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berterima kasih berulang-ulang.
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini Nasrudin langsung melompat ke air.
"Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana!"
*RELATIVITAS KEJU
Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,
"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.
"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."
Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.
"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin.
"Tidak ada lagi," kata istrinya.
Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."
"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"
"Itu tergantung," sambut Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."
*PELAYAN RAJA
Nasrudin menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali.
"Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?" tanya raja kepada Nasrudin."Teramat baik, Tuanku."
Maka raja meminta dimasakkan sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk yang kesepuluh kali memasak masakan yang sama, raja berteriak:
"Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!""Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku." ujar Nasrudin."Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik.""Memang benar. Tapi saya pelayan raja, bukan pelayan sayuran."
*HIDANGAN UNTUK BAJU (1)
Nasrudin menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa Nasrudin pulang kembali.
Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuang Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.
Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!"
Untuk mana ia memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku."
*HIDANGAN UNTUK BAJU (2)
Nasrudin menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya sedang asyik makan. Namun, di samping makan sebanyak-banyaknya, ia sibuk pula mengisi kantong bajunya dengan makanan.
Melihat kerakusan sahabatnya, Nasrudin mengambil teko berisi air. Diam-dian, diisinya kantong baju sahabatnya dengan air. Tentu saja sahabatnya itu terkejut, dan berteriak,
"Hai Nasrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi air!"
"Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat," jawab Nasrudin, "Karena tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka aku khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya."
*MENJEMUR BAJU
Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampung yang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk mengeluh,
"Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah. Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan beberapa kantong lagi. Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan."
Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Maka datanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki. Total terkumpul hanya setengah ember air.
Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut,
"Mullah ! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!"
Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira.
"Bajuku hanya satu ini," kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, "Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!"
*BAHASA BURUNG
Dalam pengembaraannya, Nasrudin singgah di ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Nasrudin telah menguasai bahasa burung-burung. Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Nasrudin ke istana.
Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak di dekat istana. Bertanyalah raja pada Nasrudin, "Coba katakan, apa yang diucapkan burung hantu itu!"
Ia mengatakan," kata Nasrudin, "Jika raja tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera runtuh seperti sarangnya."
*KEKEKALAN MASSA
Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."
Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.
"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"
Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"
Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras,
"Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"
*PERIUK BERANAK
Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.
"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."
Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.
Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,
Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan."
Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!"
"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya
Selasa, 15 Juni 2010
Budaya Kebersamaan
Budaya makan enggak makan asal kumpul, gemeinschaft (paguyuban) atau mezzo-structures suatu bentuk interaksi sosial kekeluargaan, solidaritas sosial, perasaan menjadi satu kesatuan dalam rasa sepenanggungan, tenggang rasa atau tepa selira dengan nilai-nilai moral berupa penghormatan sesama manusia, tanggung jawab, kejujuran, kerukunan, dan kesetiakawanan. Disadari ataupun tidak disadari akhir-akhir ini telah menjauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Kebersamaan yang indah yang mulai terkikis oleh budaya-budaya individualis. Pandangan hidup yang mengagung-agungkan kebebasan personal yang mendorong manusia untuk mendahulukan kepentingan dan kebebasan pribadi tanpa memikirkan hak-hak orang lain. Sikap ini acapkali menjerumuskan manusia ke dalam perbenturan dengan pihak lain dalam hidup sosial. Penyanjung kebebasan seakan-akan tinggal di luar entitas sosial dan seolah-olah mereka tidak berdampingan dengan sesama. Keberadaan budaya kebersamaan sekarang lebih menjadi nilai-nilai yang semu dan artifisial, Menjauh dari titik nyatanya dan hanya sekedar simbol dipermukaan. Pudarnya nilai-nilai luhur telah menjadikan masyarakat Indonesia menjadi ‘kasar’ dan tanpa perasaan, dan semakin menguat manakala hukum tidak lagi mempunyai kewibawaan untuk mengatur Kita. Jika terus sperti ini, apakah kita masih layak disebut sebagai suatu bangsa?
Bangsa pada dasarnya merupakan suatu bentuk solidaritas kolektif; yang mana lebih menonjolkan elemen kebersamaan dan tidak menyoroti masalah ketidaksamaan ataupun eksploitasi. dalam konteks definisi kelompok social, Ferdinand Tonnies mengemukakan bahwa kelompok sosial adalah suatu bentuk kehidupan bersama, dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Batasan ini disebut Tonnies sebagai paguyuban atau gemeinschaft.
Tonnies menyebutkan beberapa ciri peguyuban, yaitu; (1)intimate, hubungan menyeluruh yang mesra antar individu dalam kelompok masyarakat. (2)Private, hubungan yang bersifat pribadi antar sesama anggota masyarakat, karena faktor pertalian darah. Dan yang ketiga adalah exclusive, yakni hubungan yang tertutup antara segenap anggota masyarakat sebagai suatu paguyuban. Oleh karena itu di dalam gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu common will (kemauan bersama), dan juga ada suatu understanding (pengertian bersama), serta kaidah yang timbul dengan sendiri dari kelompok tersebut. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan (yang harmonis) antar anggota kelompok. Asas persaudaraan ini dijaga oleh institusi negara yang memiliki kemampuan menjangkau segenap anggota dari suatu bangsa. Fungsi lain dari suatu bangsa adalah merusmuskan dan menegakkan aturan permainan, entah dalam kehidupan ekonomi, dan politik, maupun kemasyarakatan yang disepakati oleh anggotanya. Bangsa dibentuk oleh unsur kebudayaan, sejarah dan warisan tradisi lain yang pernah ada sebelumnya. Dikatakan sebagai suatu solidaritas kolektif karena memiliki lambang-lambang budaya sendiri seperti bahasa yang digunakan dalam wilayah teritorial tertentu, yang sebenarnya mencerminkan suatu kesatuaan. Oleh karena itu, konsep bangsa menonjolkan persaudaraan dan atau kebersamaan.
(http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1913039-budaya-kebersamaan)
Jumat, 30 April 2010
Mahasiswa Antara Hedonisme dan Idealisme
Karena prestasi semacam itulah mahasiswa dipandang sebagai sosok yang revolusioner, agen perubahan (agent of change) dan beberapa label “suci” lainnya. Pandangan ini sebenarnya didasarkan pada catatan sejarah dan liputan media massa yang hanya menonjolkan sosok mahasiswa yang demikian. Sementara, mahasiswa yang tidak berpenampilan dan sevisi dengan itu dinilai bukan mahasiswa (baca: aktivis)
Pandangan diatas tidak bisa disalahkan. Sebab, hal itulah yang tercatat dalam sejarah Indonesia, bahkan sejarah dunia. Akan tetapi, bagaimana dengan kebayakan mahasiswa lainnya yang hanya peduli dengan dirinya sendiri; pesta, nikah, IP tinggi dan lain sebagainya?
Tak dapat dipungkiri, bahwa mahasiswa adalah anak muda yang dipenuhi dengan idealisme. Sebagai anak muda, mahasiswa berada dalam tarik menarik antara dua kutub yang berlawanan. Pada biasanya mereka idealis dan suka melukis mimpi yang besar-besar, sementara dalam waktu yang bersamaan mereka tidak bisa mengelak dari kebutuhan sesaat.
Karena wataknya demikian itulah, mahasiswa seringkali menyuarakan perubahan sosial secara radikal, Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan beberapa “bahasa langit” lainnya. Mereka menampilkan sosok yang sedemikian suci ini didasarkan pada argumentasi noblesse oblige. Artinnya, mereka menikmati predikat mahasiswa karena jerih payah dan keringat rakyat, maka sebagai kelompok elit mereka harus menunjukkan balas budinya dengan perbuatan-perbuatan mulia, yaitu sebagai juru bicara rakyat.
Padahal, diantara mahasiswa yang melakukan gerakan moral, sebagian besar diantara mereka justru menikmati pesta, diskotik, mobil mewah yang kesemuanya tidak mencerminkan sebagai penyambung aspirasi rakyat. Bahkan, mahasiswa gemar melancarkan aksi-aksi dan kritik terhadap pemerintah dan dalam waktu bersamaan mereka nyontek dalam waktu ujian.
Inilah fenomena obyektif mahasiswa sebagai kalangan anak muda. Membaca dan memberikan label terhadap mahasiswa sebagai “pendekar”. Sebagai anak muda, secara psikologis, mahasiswa menyukai enjoy life (pesta dan cinta), oreintasi status (jabatan pemerintah), external locus of control (meletakkan kesuksesan pada nasib dari pada kerja), bypass disease (jalan pintas) dan tingkat ketergantungan yang tinggi. Karena psikologi anak muda demikian, maka aksi-aksi mereka terkadang hanya menjadi batu loncatan untuk meraih jabatan tertentu. Banyak diantara para aktivis mahasiwa yang kini menjadi pengurus partai bahkan menjadi anggota legislatif. Sebagian yang lain masih enjoy menikmati buah cinta dan lain sebagainya.
Karena itulah, memandang mahasiswa sebagai sosok suci, “malaikat”perlu dibaca ulang. Jika, dulu, Soekarno menanamkan benih-benih nasionalisme kepada rakyat Indonesia, tetapi sebagian besar diantara mereka enjoy dengan sifat dan psikologi kepemudaannya. Singkatnya, mahasiswa bukan sekedar sosok yang suci dan malaikat yang memperjuangkan rakyat Indonesia.
Jika demikian, harapan yang besar terhadap mahasiswa untuk melakukan gerakan moral dalam menghadapi pemerintah dan memperjuangkan hak-hak rakyat sulit digeneralisasi kepada mahasiswa secara keseluruhan. Kita tidak perlu berharap banyak terhadap kalangan mahasiswa. Sebab, disamping kini menghadapi perbedaan kepentingan diantara elemen mahasiswa, juga aksi-aksi yang mereka lakukan acapkali tidak absen dari kepentingan tertentu dan sebagai upaya untuk menonjolkan diri sendiri (popularitas). Dengan popularitas yang diraih melalui aksi turun jalan (demonstrasi), mereka sebenarnya berharap untuk mendapatkan kesuksesan dan dipandang semua orang bahwa dirinya adalah orang yang membela kepentingan rakyat. Akhirnya, mereka bisa melakukan tawar-menawar politik untuk sebuah jabatan tertentu.
Hal ini tidak bermaksud untuk memandang negatif terhadap mahasiswa. Tetapi sebagai upaya menjelaskan secara obyektif dan apa adanya kondisi mahasiswa. Tanpa ada keterangan yang mendetail tentang mahasiswa, akhirnya rakyat Indonesia terlalu berharap banyak terhadap kawula muda. Sebab, para aktivis yang kerapkali turun jalan kini tengah menghadapi pembungkaman dalam internal kampus. Mahasiswa dalam pengertian birokrasi kampus adalah orang-orang yang taat dosen, capat menyelesaikan studi, dan tidak peduli dengan kehidupan sosial/budaya/ekonomi dan politik bangsa Indonesia. Inikah, implementasi tridharma Perguruan Tinggi.
Redefinisi Makna Aktivis
Disamping itu, istilah pergerakan atau gerakan seringkali hanya dimaknai dengan aksi turun jalan, demonstrasi menyuarakan sebuah aspirasi tertentu. Bahkan, kader yang militan dalam pemaknaan Organisasi Kepemudaan (OKP) adalah orang-orang yang aktif melakukan aksi turun jalan, happening art, dan beberapa aksi jalanan lainnya. Karenanya ia disebut sebagai “aktivis” yang dipenuhi semangat heroisme untuk membela kepentingan rakyat.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak aktif dijalanan tidak dikategorikan sebagai aktivis pergerakan atau “kader militan”. Kelompok-kelompok mahasiswa yang aktif di Lembaga Pers, penulis, budayawan, sastrawan dan lain sebagainya sama sekali tidak dikategorikan sebagai aksi-aksi gerakan moral, walaupun apa yang disuarakan mereka juga memiliki sinergisitas dan pesan yang sama dengan apa yang diperjuangkan “kader jalanan”. Karena itulah, tidak sedikit diantara mahasiswa yang memiliki cita-cita untuk menjadi aktivis jalanan, dengan mengesampingkan kuliah, nilai baik dan ilmu pengetahuan.
Pemaknaan yang sedemikian sempit ini tentu tidak bisa dipersalahkan. Sebab, yang menonjol diantara mahasiswa adalah mereka yang bisa melakukan aksi turun jalan. Akan tetapi, mengikuti pengertian gerakan yang disempit diatas tentu akan membawa akibat yang tidak remeh. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan selain jalanan akan hengkang (tidak aktif) atau bahkan tidak berminat untuk mengikuti organisasi pergerakan mahasiswa seperti PMII, HMI, IMM, KAMMI dan lain sebagainya.
Lihat saja ketika organisasi kepemudaan diatas membuka pendaftaran (Pelatihan Kader Dasar, PKD/Latihan Kader, LK/Darul Arqom, DA dsb) cukup banyak diminati mahasiswa, tetapi pasca itu jumlah mahasiswa yang aktif diorganisasi tersebut semakin surut. Semakin minimnya mahasiswa yang aktif diorganisasi pergerakan dikarenakan tidak tersedianya ruang dalam organisasi tersebut. Padahal diakui atau tidak, mahasiswa yang memiliki kecenderungan diluar itu sangatlah tumpah ruah.
Disamping itu, gerakan moral saat ini nyaris sama dengan gerakan politik. Sebab, lazimnya, mahasiswa hanya mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Sementara, hal-hal diluar itu yang menjadi problem bangsa jarang disentuh oleh kalangan mahasiswa. Bencana alam, kemiskinan, pengangguran, buruknya pendidikan dan lain sebagainya tidak mendapat ruang yang istimewa dihati mahasiswa.
Dalam kerangka itulah, memaknai ulang terhadap gerakan atau pergerakan sangatlah penting. Hal ini dimaksudkan untuk; pertama, terjalinnya kerjasama diantara elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, antara aktivis jalanan dengan jurnalis, penulis dan budayawan. Kerjasama diantara elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda ini sangatlah penting dilakukan. Sebab, aksi turun jalan untuk menyuarakan aspirasi tertentu tidaklah se-efektif pada tahun 1998.
Bahkan tidak jarang, sebagian masyarakat merasa risih dengan aksi turun jalan yang dilakukan oleh mahasiswa. Singkatnya, aksi turun jalan bukanlah satu-satunya cara untuk menyuarakan aspirasi tertentu. Melalui tulisan dimedia massa, pamflet, happening art, orasi budaya juga bisa menjadi cara untuk menyalurkan aspirasi tertentu. Disinilah, titik singgung dan sinergisitas antar elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda.
Kedua, masa depan gerakan mahasiswa. Kedepan, mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada aksi-aksi gerakan moral dijalanan, tetapi juga bisa mengisi dan siap melanjutkan estafet pemerintah kearah yang lebih baik. Karena itulah, mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda bisa menjadi partner yang baik dalam melakukan aksi-aksi kemanusiaan, menyelesaikan persoalan bangsa dan Negara [Hatim Gazali]forward from Hatim Gazali under Artikel, Manuskrip :Mahasiswa Antara Hedonisme dan Idealisme
Selasa, 02 Februari 2010
mengerti PEMAKZULAN
Pemakzulan berlaku di bawah undang-undang konstitusi di banyak negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Brasil, Rusia, Filipina, dan Republik Irlandia.(wikipedia.com)
MK Sahkan Tata Cara Pemakzulan
Rabu, 6 Januari 2010 | 20:48 WIB
TERKAIT:
* Ada Tiga Jenis Amar Putusan MK Terkait Pemakzulan Presiden-Wapres
* MK Publikasikan Peraturan Pedoman Beracara Terkait Pemakzulan Presiden-Wapres
* Pemakzulan terhadap Presiden Takkan Dilupakan
* Materi Pemakzulan Presiden Masih Jadi Polemik
* Hatta Rajasa: Pemakzulan SBY Sekadar Wacana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mahkamah Konstitusi mengesahkan tata cara impeachment atau pemakzulan dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 21 Tahun 2009 tentang Hukum Acara Impeachment pada 31 Desember 2009. Dalam aturan ini dijelaskan pemakzulan terhadap presiden maupun wakil presiden dapat dilakukan secara terpisah atau bersama-sama.
Peraturam Mahkamah Konstitusi (PMK) itu mengatur bahwa pemakzulan diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kepada Mahkamah Konstitusi (MK), baik secara langsung atau melalui wakil yang ditunjuk. Akan tetapi, keputusan MK dalam hal ini hanya menyatakan presiden atau wakil presiden termakzul bersalah atau tidak.
"MK tidak punya wewenang memberi sanksi maupun melepas jabatan. Wewenang itu sepenuhnya berada pada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)," kata Ketua MK Mahfud MD usai menerima Anugerah UII di Yogyakarta, Rabu (6/1/2010).
Menurut Mahfud, terdapat dua pokok penting dalam PMK tentang Hukum Acara Pemakzulan tersebut. Pokok pertama adalah proses hukum pidana kepada pihak termakzul tetap dapat berlangsung selama proses pemakzulan berlangsung di MK. Seperti keputusan lainnya, proses pemakzulan di MK paling lama memakan waktu 90 hari.
Hal ini karena proses pemakzulan dan proses hukum pidana merupakan dua jalur yang berbeda. Pemakzulan merupakan proses hukum tatanegara yang merupakan keputusan politis dan tidak berkaitan dengan hukum pidana maupun perdata.
Adapun pokok penting kedua adalah, presiden maupun wakil presiden yang sedang dalam proses pemakzulan dapat diwakilkan. Apabila proses pemakzulan berakhir dengan pencopotan jabatan, maka MPR harus segera menunjuk gantinya paling lama dalam waktu 60 hari.
Mahfud menyangkal pengesahan PMK tentang Hukum Acara Impeachment karena MK telah menerima pengajuan pemakzulan. Pengesahan dilakukan untuk menghindari politisasi terhadap MK, yaitu justru saat kondisi masih netral dan belum ada pemikiran ke arah tersebut.
"Kalau hukum acara pemakzulan ini disahkan saat sudah ada pengajuan atau pemikiran ke arah sana, bisa-bisa MK dituduh membuat pengesahan demi mendukung atau justru menjatuhkan presiden atau wakilnya," tuturnya.
Lebih lanjut Mahfud menerangkan bahwa rancangan PMK mengenai Hukum Acara Impeachment itu sudah ada sejak MK dipimpin oleh Jimly Asshiddiqie. "Namun saat itu belum dapat disahkan karena belum tercapai kesepakatan siapa yang seharusnya menuntutkan pemakzulan. Sekarang sudah ada kesepakatan, yaitu DPR. Maka PMK itu segera disahkan saja," ujarnya.(kompas.com)
SIRUP DAN JAMU


Kota Batu yang terkenal dengan wisata dan udara sejuk dinginnya membawa ketertarikan banyak orang untuk tinggal dan menetap di sana. Kota yang tergolong kota baru jadi ini masih asri dan alami belum terjamah dengan tangan-tangan nakal pemuas diri seperti di kota- kota lain umumnya, membuat kita betah tinggal dan berlama-lama diteras tingkat kita. Hal inilah yang mendorong pasangan suami istri untuk menjauhkan diri dari kebisingan dan kepadatan penduduk metropolitan untuk menghabiskan masa-masa tua bersama kekasih tercinta. Desa Punten tepatnya, desa yang dihuni penduduk penghasil dan penjual bunga. Kehidupan penduduk disana sangat rukun dan saling gotong royng dalam segala hal, layaknya penduduk- penduduk desa lainnya.
Pagi yang cerah, indah dan menyejukkan hati gini enaknya ngapain ya ? celetuk seorang kakek bertanya pada istrinya. Iya kek ya … enaknya ngapain ya ?? sahut nenek kebingungan. Thing… aku ada ide kek, gimana klo kita buat sirup aja ? kata nenek. Ok ! jawab kakek. Nenek pun bergegas ke dapur dan menyiapkan segalanya untuk pasangan seumur hidupnya itu. 15 menit waktu berselang, nenek muncul dari balik pintu dengan dua cangkir sirup di tambah beberapa strip roti selai yang membuat perut kakek makin keroncongan. Seteguk demi seteguk kakek menikmati manisnya sirup seperti manisnya hidup mereka yang bergelimang harta. Karena ketagihan akan manisnya sirup, pasangan itu tiap hari melewati hidupnya dengan 5-7 cangkir sirup. Begitu pula dengan anak-anak dan cucu-cucu mereka yang tinggal di Jakarta, semuanya menjadi pecinta sirup dengan selera rasa masing-masing
Berbeda dengan tetangganya yang sangat suka minum sirup, Pak Toyo dan istrinya selalu minum jamu tiap pagi. Kebiasaan itu diturunkan pula pada anak-anak mereka dari kecil. Hidup mereka sebenarnya sangat baik, pada waktu muda Pak Toyo adalah seorang konraktor handal yang berhasil membangun ratusan gedung- gedung pencakar langit di kota-kota besar. Tiap pagi di meja makan selalu ada aneka macam jamu dari kunyit sampai kencur yang diambil dari kebun yang sengaja mereka tanam tumbuh-tumbuhan yang menjadi bahan jamu tak seperti tetangga mereka yang lebih suka menanam bunga. racik Sampai pada suatu waktu sang anak sulung merasa bosan minum jamu dan ingin minum sirup tiap hari seperti kakek yang tinggal disebelah rumahnya. “Yah, kenapa sih kita minum jamuuu melulu tiap pagi ? ayah tau gak sih kalo jamu itu pahitnya minta ampun? “ gerutu Si Sulung. Sang ayah hanya tersenyum, dan berkata “ kamu pasti dapat jawabnya nanti nak”.
5 tahun semenjak itu….
Kakek nenek pecinta sirup mengalami duka yang mendalam karena mereka di vonis mengidap penyakit diabetes dan kanker yang sangat ganas. Tubuh mereka sekarang semakin mengurus dari hari kehari, anak cucu mereka yang tinggal di Jakarta iba dan berduka melihat ayah-ibu /kakek-nenek mereka seperti itu. Hingga akhirnya mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Anak cucunya hanya bias tertunduk, meratapi kepergian keluarga tercintanya itu. Hanya 1 pesan singkat yang pasangan kakek nenek itu berikan pada semua anak cucu mereka. Mereka hanya berkata :
“ anak-anak dan cucu-cucu ku yang kucintai… jangan kau iringi kepergianku nanti hanya dengan tangis, tapi iringi kepergianku dengan merubah kebiasaan buruk yang telah kutanamkan sejak kecil pada kalian di pagi hari. Sesungguhnya pahitlah yang membuat hidup kita lebih baik”
Anak kakek nenek yang di tinggalkan tersebut tak mengetahui apa maksud perkataan pasangan sehidup se-mati itu…hingga bertanya pada tetangga sebelah yang ikut merawat kedua orang tuanya itu sebelum kedatangan mereka ke Kota Batu.
Keluarga pak Toyo yang juga membantu merawat kakek nenek tersebut mendapat ucapan banyak terima kasih dari anak-anak tetangganya itu karena telah banyak membantu merawa orang tuanya. Tapi mereka merasa aneh akan diri pak Toyo dan mulai bertanya, “ pak, apa sih resepnya supaya tetap bugar di Usia senja(80th) seperti bapak ?”. Pak toyo yang didampingi istri dan anak sulungnya menjawab dengan logat jawanya yang kental“jamu mbak, iya jamu yang membuat saya sebugar ini, tiap pagi saya dan keluarga biasa meminumnya… mbak dan mas mau nyoba?”. Merekapun terdiam sejenak dan kemudian menangis, sambil sesenggukan anak perempuan kakek mencium tangan Pak toyo dan berkata “terima kasih pa… Terima kasih banyak… kami tahu jawabanya”. Akhirnya anak-anak kakek-nenek itu menceritakan semua yang terjadi pada Pak Yoto sekeluarga. Kelegaanpun di terima putra sulung Pak Yoto yang selama ini bertanya dan sebel dengan kebiasaan orang tuanya akhirnya terjawab dengan secangkir jamu tiap pagi untuk anaknya dan tentunya untuk ayahnya tercinta..
---------------------------------Sekian-------------------------------------
Kawan, tahukah kalian bahwa pahitnya dunia sebenarnya merupakan pelajaran berharga bagi kita?
Tahukah kalian bahwa suatu hal yang manis itu nantinya akan menghancurkan kita semdiri jika berlebihan?
Kita anak muda jarang memikirkan hal itu, yup.. yang kita pikirkan hanya indahnya sekarang dan bagaimana kalian menikmati hidup dengan gampang dan mudah. Kita tak pernah memikirkan segala kesedihan, hanya fun and happy.
Contohnya saja, kita anak muda/ anda pada masa muda dulu akan selalu berusaha lari dari masalah, sekecil apapun masalah itu… dan kita selalu merasa berat jika cobaan datang menemui kita. Nantinya, jika kita tidak bias menelaah segala masalah dan terbiasa dengan masalah kita pasti akan tersamdung terus dan terus hingga stress akan selalu melingkupi hidup kita. Ya… positif tingking memang perlu kita lakukan agar segala hal sulit dapat kita hadapi.
Ingat segala hal pahit adalah suatu hal yang sangat baik bagi kita jika kita mengerti dan bias menanggapinya.
Rabu, 20 Januari 2010
HARMONI GAZZA
Jalur Gaza, ribuan rakyat dan anak-anak Palestina yang tak berdosa meninggal. Bahkan efek bom fosfor yang dilepaskan oleh Israel masih membekas di tubuh para korban dan kelaparan akibat blockade yang dilakukan oleh israel. Mata internasional pada saat infansi di jalur gaza seakan tertutup rapat. Entah, apa yang terbesit dalam benak para pemimpin-pemimpin dunia pada saat itu. Yup, PBB khususnya… apa kata harmoni kehidupan yang menonjolkan penyelarasan perbedaan untuk mencapai kedamaian dunia masih berlaku??
Saat melihat kepala anak-anak dibawah umur bercucuran darah, manula tertatit-tatih menyelamatkan diri dari serangan apakah itu saat harmoni berjalan dengan baik?. Manusia adalah tetap manusia, selalu ada yang kurang dalam hidupnya. Wilayah yang dititipkan pada kita oleh Sang Kholiq harusnya jadi tempat bersama yang harus di rawat dan dilestarikan dengan baik. Bukannya di jadikan sebagai ajang perebutkan untuk menunjukkan eksistensi sebuah golongan. Ingatkah kalian para pemimpin, saat mentari mulai muncul dan anak-anak kalian terbangun mencarimu?. “ ayah…ibu…” kata anak-anak kalian berulang-ulang sambil merengek. Dan kalianpun menjawab dengan penuh bahagia “ selamat pagi anakku…tenang, ayah dan ibu akan selalu disampingmu”… ( seharusnya ini yang harusnya ada di benak kalian). Sekarang pandanglah mata kalian, jika kalian menjadi rakyat palestina. Apakah kalian masih bisa mengucapkan dan menemui hal itu?
Kecelakaan, salah sasaran… apakah itu alasan yang tepat untuk menebus semua itu??. Dengan kedok mencari persembunyian atau menyerang HAMAS yang kalian sebut – sebut sebagai “TERORIS”. Sekarang, apakah yang kalian lakukan bukan suatu terror bagi rakyat palestina?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Harmoni, kata yang syarat dengan kedamaian dan ketenangan, yang akan tercipta jika mau duduk sejajar sebagai umat manusia tanpa memikirkan adanya perbedaan sedikitpun seperti yang banyak agama ajarkan. Dalam hidup, kata ini akan lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan. Banyak orang-orang tanpa kecuali kita sendiri masih saja ingin mendapat pengakuan diri di mata makhluk hidup lainnya. Kita contohkan saja kita yang ingin mendapat pasangan yang lebih baik dari pasangan kita sekarang. He…he… aku masih ingat kata-kata temanku kemarin, “ Friend, hal yang baru selalu akan tampak lebih indah… seperti baju di toko itu lho..” sambil tersenyum syarat makna.
Memang, kita sebagai manusia selalu merasa kurang atas segalanya. Tapi apakah harus mengorbankan orang lain?. Kita kembali ke HARMONI. Layaknya HARMONIKA, harmonika akan menciptakan suatu nada – nada yang indah dan dinamis jika kita meniupnya dengan tepat dan penuh perasaan. Tapi sayangnya kita belum bisa melakukannya. Andainya kita memikirkan itu, maka kita harus memulainya dari diri kita sendiri sebelum kita mengecam atau mencemooh orang lain akan tindakannya. Ya… kita harus mulai belajar mengerti, memahami arti dan tujuan dari HARMONI, menurutmu???