Kita Ada Karena Kebersamaan
Kita Ada Karena Perbedaan
Kita Ada Untuk Memerangi Kesalahan SYSTEM
Guyub Rukun Berjuang Bersama
(Bukan OMEK)

Selasa, 15 Juni 2010

Budaya Kebersamaan



Budaya makan enggak makan asal kumpul, gemeinschaft (paguyuban) atau mezzo-structures suatu bentuk interaksi sosial kekeluargaan, solidaritas sosial, perasaan menjadi satu kesatuan dalam rasa sepenanggungan, tenggang rasa atau tepa selira dengan nilai-nilai moral berupa penghormatan sesama manusia, tanggung­ jawab, kejujuran, kerukunan, dan kesetiakawanan. Disadari ataupun tidak disadari akhir-akhir ini telah menjauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Kebersamaan yang indah yang mulai terkikis oleh budaya-budaya indivi­dualis. Pandangan hidup yang mengagung-agungkan kebebasan personal yang mendorong manusia untuk mendahulukan kepen­tingan dan kebebasan pribadi tanpa memikirkan hak-hak orang lain. Sikap ini acapkali menjerumuskan manusia ke dalam perbenturan dengan pihak lain dalam hidup sosial. Penyanjung kebebasan seakan-akan tinggal di luar entitas sosial dan seolah-olah mereka tidak berdampingan dengan sesama. Keberadaan budaya kebersamaan sekarang lebih menjadi nilai-nilai yang semu dan artifisial, Menjauh dari titik nyatanya dan hanya sekedar simbol dipermukaan. Pudarnya nilai-nilai luhur telah menjadikan masya­rakat Indonesia menjadi ‘kasar’ dan tanpa perasaan, dan semakin menguat manakala hukum tidak lagi mempunyai kewi­bawaan untuk mengatur Kita. Jika terus sperti ini, apakah kita masih layak disebut sebagai suatu bangsa?


Bangsa pada dasarnya merupakan suatu bentuk solidaritas kolektif; yang mana lebih menonjolkan elemen kebersamaan dan tidak menyoroti masalah ketidaksamaan ataupun eksploitasi. dalam konteks definisi kelompok social, Ferdinand Tonnies mengemukakan bahwa kelompok sosial adalah suatu bentuk kehidupan bersama, dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Batasan ini disebut Tonnies sebagai paguyuban atau gemeinschaft.

Tonnies menyebutkan beberapa ciri peguyuban, yaitu; (1)intimate, hubungan menyeluruh yang mesra antar individu dalam kelompok masyarakat. (2)Private, hubungan yang bersifat pribadi antar sesama anggota masyarakat, karena faktor pertalian darah. Dan yang ketiga adalah exclusive, yakni hubungan yang tertutup antara segenap anggota masyarakat sebagai suatu paguyuban. Oleh karena itu di dalam gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu common will (kemauan bersama), dan juga ada suatu understanding (pengertian bersama), serta kaidah yang timbul dengan sendiri dari kelompok tersebut. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan (yang harmonis) antar anggota kelompok. Asas persaudaraan ini dijaga oleh institusi negara yang memiliki kemampuan menjangkau segenap anggota dari suatu bangsa. Fungsi lain dari suatu bangsa adalah merusmuskan dan menegakkan aturan permainan, entah dalam kehidupan ekonomi, dan politik, maupun kemasyarakatan yang disepakati oleh anggotanya. Bangsa dibentuk oleh unsur kebudayaan, sejarah dan warisan tradisi lain yang pernah ada sebelumnya. Dikatakan sebagai suatu solidaritas kolektif karena memiliki lambang-lambang budaya sendiri seperti bahasa yang digunakan dalam wilayah teritorial tertentu, yang sebenarnya mencerminkan suatu kesatuaan. Oleh karena itu, konsep bangsa menonjolkan persaudaraan dan atau kebersamaan.
(http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1913039-budaya-kebersamaan)

Jumat, 30 April 2010

Mahasiswa Antara Hedonisme dan Idealisme

Masih ingat 21 Mei 1998? Sebuah momentum dimana gerakan mahasiswa bersatu untuk mendobrak otoritarianisme pemerintah Orde Baru yang tidak demokratis, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), korup. Mahasiswa menjadi elemen yang sangat penting dalam melakukan perubahan dinegeri ini. Pada tahun 1920-an, mahasiswa dikenal sebagai angkatan pendobrak kesadaran nasionalisme, 1960-an dan 1970-an di identifikasi sebagai penggerak kekuatan moral (moral force), 1980-an sebagai pelopor aksi pergerakan pendampingan massa rakyat bawah (grassroots) dan sebagai kelompok penekan (pressure group) pemerintah.

Karena prestasi semacam itulah mahasiswa dipandang sebagai sosok yang revolusioner, agen perubahan (agent of change) dan beberapa label “suci” lainnya. Pandangan ini sebenarnya didasarkan pada catatan sejarah dan liputan media massa yang hanya menonjolkan sosok mahasiswa yang demikian. Sementara, mahasiswa yang tidak berpenampilan dan sevisi dengan itu dinilai bukan mahasiswa (baca: aktivis)

Pandangan diatas tidak bisa disalahkan. Sebab, hal itulah yang tercatat dalam sejarah Indonesia, bahkan sejarah dunia. Akan tetapi, bagaimana dengan kebayakan mahasiswa lainnya yang hanya peduli dengan dirinya sendiri; pesta, nikah, IP tinggi dan lain sebagainya?

Tak dapat dipungkiri, bahwa mahasiswa adalah anak muda yang dipenuhi dengan idealisme. Sebagai anak muda, mahasiswa berada dalam tarik menarik antara dua kutub yang berlawanan. Pada biasanya mereka idealis dan suka melukis mimpi yang besar-besar, sementara dalam waktu yang bersamaan mereka tidak bisa mengelak dari kebutuhan sesaat.

Karena wataknya demikian itulah, mahasiswa seringkali menyuarakan perubahan sosial secara radikal, Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan beberapa “bahasa langit” lainnya. Mereka menampilkan sosok yang sedemikian suci ini didasarkan pada argumentasi noblesse oblige. Artinnya, mereka menikmati predikat mahasiswa karena jerih payah dan keringat rakyat, maka sebagai kelompok elit mereka harus menunjukkan balas budinya dengan perbuatan-perbuatan mulia, yaitu sebagai juru bicara rakyat.

Padahal, diantara mahasiswa yang melakukan gerakan moral, sebagian besar diantara mereka justru menikmati pesta, diskotik, mobil mewah yang kesemuanya tidak mencerminkan sebagai penyambung aspirasi rakyat. Bahkan, mahasiswa gemar melancarkan aksi-aksi dan kritik terhadap pemerintah dan dalam waktu bersamaan mereka nyontek dalam waktu ujian.

Inilah fenomena obyektif mahasiswa sebagai kalangan anak muda. Membaca dan memberikan label terhadap mahasiswa sebagai “pendekar”. Sebagai anak muda, secara psikologis, mahasiswa menyukai enjoy life (pesta dan cinta), oreintasi status (jabatan pemerintah), external locus of control (meletakkan kesuksesan pada nasib dari pada kerja), bypass disease (jalan pintas) dan tingkat ketergantungan yang tinggi. Karena psikologi anak muda demikian, maka aksi-aksi mereka terkadang hanya menjadi batu loncatan untuk meraih jabatan tertentu. Banyak diantara para aktivis mahasiwa yang kini menjadi pengurus partai bahkan menjadi anggota legislatif. Sebagian yang lain masih enjoy menikmati buah cinta dan lain sebagainya.

Karena itulah, memandang mahasiswa sebagai sosok suci, “malaikat”perlu dibaca ulang. Jika, dulu, Soekarno menanamkan benih-benih nasionalisme kepada rakyat Indonesia, tetapi sebagian besar diantara mereka enjoy dengan sifat dan psikologi kepemudaannya. Singkatnya, mahasiswa bukan sekedar sosok yang suci dan malaikat yang memperjuangkan rakyat Indonesia.

Jika demikian, harapan yang besar terhadap mahasiswa untuk melakukan gerakan moral dalam menghadapi pemerintah dan memperjuangkan hak-hak rakyat sulit digeneralisasi kepada mahasiswa secara keseluruhan. Kita tidak perlu berharap banyak terhadap kalangan mahasiswa. Sebab, disamping kini menghadapi perbedaan kepentingan diantara elemen mahasiswa, juga aksi-aksi yang mereka lakukan acapkali tidak absen dari kepentingan tertentu dan sebagai upaya untuk menonjolkan diri sendiri (popularitas). Dengan popularitas yang diraih melalui aksi turun jalan (demonstrasi), mereka sebenarnya berharap untuk mendapatkan kesuksesan dan dipandang semua orang bahwa dirinya adalah orang yang membela kepentingan rakyat. Akhirnya, mereka bisa melakukan tawar-menawar politik untuk sebuah jabatan tertentu.

Hal ini tidak bermaksud untuk memandang negatif terhadap mahasiswa. Tetapi sebagai upaya menjelaskan secara obyektif dan apa adanya kondisi mahasiswa. Tanpa ada keterangan yang mendetail tentang mahasiswa, akhirnya rakyat Indonesia terlalu berharap banyak terhadap kawula muda. Sebab, para aktivis yang kerapkali turun jalan kini tengah menghadapi pembungkaman dalam internal kampus. Mahasiswa dalam pengertian birokrasi kampus adalah orang-orang yang taat dosen, capat menyelesaikan studi, dan tidak peduli dengan kehidupan sosial/budaya/ekonomi dan politik bangsa Indonesia. Inikah, implementasi tridharma Perguruan Tinggi.

Redefinisi Makna Aktivis

Disamping itu, istilah pergerakan atau gerakan seringkali hanya dimaknai dengan aksi turun jalan, demonstrasi menyuarakan sebuah aspirasi tertentu. Bahkan, kader yang militan dalam pemaknaan Organisasi Kepemudaan (OKP) adalah orang-orang yang aktif melakukan aksi turun jalan, happening art, dan beberapa aksi jalanan lainnya. Karenanya ia disebut sebagai “aktivis” yang dipenuhi semangat heroisme untuk membela kepentingan rakyat.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak aktif dijalanan tidak dikategorikan sebagai aktivis pergerakan atau “kader militan”. Kelompok-kelompok mahasiswa yang aktif di Lembaga Pers, penulis, budayawan, sastrawan dan lain sebagainya sama sekali tidak dikategorikan sebagai aksi-aksi gerakan moral, walaupun apa yang disuarakan mereka juga memiliki sinergisitas dan pesan yang sama dengan apa yang diperjuangkan “kader jalanan”. Karena itulah, tidak sedikit diantara mahasiswa yang memiliki cita-cita untuk menjadi aktivis jalanan, dengan mengesampingkan kuliah, nilai baik dan ilmu pengetahuan.

Pemaknaan yang sedemikian sempit ini tentu tidak bisa dipersalahkan. Sebab, yang menonjol diantara mahasiswa adalah mereka yang bisa melakukan aksi turun jalan. Akan tetapi, mengikuti pengertian gerakan yang disempit diatas tentu akan membawa akibat yang tidak remeh. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan selain jalanan akan hengkang (tidak aktif) atau bahkan tidak berminat untuk mengikuti organisasi pergerakan mahasiswa seperti PMII, HMI, IMM, KAMMI dan lain sebagainya.

Lihat saja ketika organisasi kepemudaan diatas membuka pendaftaran (Pelatihan Kader Dasar, PKD/Latihan Kader, LK/Darul Arqom, DA dsb) cukup banyak diminati mahasiswa, tetapi pasca itu jumlah mahasiswa yang aktif diorganisasi tersebut semakin surut. Semakin minimnya mahasiswa yang aktif diorganisasi pergerakan dikarenakan tidak tersedianya ruang dalam organisasi tersebut. Padahal diakui atau tidak, mahasiswa yang memiliki kecenderungan diluar itu sangatlah tumpah ruah.

Disamping itu, gerakan moral saat ini nyaris sama dengan gerakan politik. Sebab, lazimnya, mahasiswa hanya mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Sementara, hal-hal diluar itu yang menjadi problem bangsa jarang disentuh oleh kalangan mahasiswa. Bencana alam, kemiskinan, pengangguran, buruknya pendidikan dan lain sebagainya tidak mendapat ruang yang istimewa dihati mahasiswa.

Dalam kerangka itulah, memaknai ulang terhadap gerakan atau pergerakan sangatlah penting. Hal ini dimaksudkan untuk; pertama, terjalinnya kerjasama diantara elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, antara aktivis jalanan dengan jurnalis, penulis dan budayawan. Kerjasama diantara elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda ini sangatlah penting dilakukan. Sebab, aksi turun jalan untuk menyuarakan aspirasi tertentu tidaklah se-efektif pada tahun 1998.

Bahkan tidak jarang, sebagian masyarakat merasa risih dengan aksi turun jalan yang dilakukan oleh mahasiswa. Singkatnya, aksi turun jalan bukanlah satu-satunya cara untuk menyuarakan aspirasi tertentu. Melalui tulisan dimedia massa, pamflet, happening art, orasi budaya juga bisa menjadi cara untuk menyalurkan aspirasi tertentu. Disinilah, titik singgung dan sinergisitas antar elemen mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda.

Kedua, masa depan gerakan mahasiswa. Kedepan, mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada aksi-aksi gerakan moral dijalanan, tetapi juga bisa mengisi dan siap melanjutkan estafet pemerintah kearah yang lebih baik. Karena itulah, mahasiswa yang memiliki kecenderungan yang berbeda bisa menjadi partner yang baik dalam melakukan aksi-aksi kemanusiaan, menyelesaikan persoalan bangsa dan Negara [Hatim Gazali]forward from Hatim Gazali under Artikel, Manuskrip :Mahasiswa Antara Hedonisme dan Idealisme

Selasa, 02 Februari 2010

mengerti PEMAKZULAN

Pemakzulan (lebih populer disebut impeachment) adalah sebuah proses dari sebuah badan legislatif yang secara resmi menjatuhkan dakwaan terhadap seorang pejabat tinggi negara. Pemakzulan bukan selalu berarti pemecatan atau pelepasan jabatan, tetapi hanya merupakan pernyataan dakwaan secara resmi, mirip pendakwaan dalam kasus-kasus kriminal, sehingga hanya merupakan langkah pertama menuju kemungkinan pemecatan. Saat pejabat tersebut telah dimakzulkan, ia harus menghadapi kemungkinan dinyatakan bersalah melalui sebuah pemungutan suara legislatif, yang kemudian menyebabkan pemecatan sang pejabat.

Pemakzulan berlaku di bawah undang-undang konstitusi di banyak negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Brasil, Rusia, Filipina, dan Republik Irlandia.(wikipedia.com)

MK Sahkan Tata Cara Pemakzulan
Rabu, 6 Januari 2010 | 20:48 WIB
TERKAIT:

* Ada Tiga Jenis Amar Putusan MK Terkait Pemakzulan Presiden-Wapres
* MK Publikasikan Peraturan Pedoman Beracara Terkait Pemakzulan Presiden-Wapres
* Pemakzulan terhadap Presiden Takkan Dilupakan
* Materi Pemakzulan Presiden Masih Jadi Polemik
* Hatta Rajasa: Pemakzulan SBY Sekadar Wacana

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mahkamah Konstitusi mengesahkan tata cara impeachment atau pemakzulan dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 21 Tahun 2009 tentang Hukum Acara Impeachment pada 31 Desember 2009. Dalam aturan ini dijelaskan pemakzulan terhadap presiden maupun wakil presiden dapat dilakukan secara terpisah atau bersama-sama.

Peraturam Mahkamah Konstitusi (PMK) itu mengatur bahwa pemakzulan diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kepada Mahkamah Konstitusi (MK), baik secara langsung atau melalui wakil yang ditunjuk. Akan tetapi, keputusan MK dalam hal ini hanya menyatakan presiden atau wakil presiden termakzul bersalah atau tidak.

"MK tidak punya wewenang memberi sanksi maupun melepas jabatan. Wewenang itu sepenuhnya berada pada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)," kata Ketua MK Mahfud MD usai menerima Anugerah UII di Yogyakarta, Rabu (6/1/2010).

Menurut Mahfud, terdapat dua pokok penting dalam PMK tentang Hukum Acara Pemakzulan tersebut. Pokok pertama adalah proses hukum pidana kepada pihak termakzul tetap dapat berlangsung selama proses pemakzulan berlangsung di MK. Seperti keputusan lainnya, proses pemakzulan di MK paling lama memakan waktu 90 hari.

Hal ini karena proses pemakzulan dan proses hukum pidana merupakan dua jalur yang berbeda. Pemakzulan merupakan proses hukum tatanegara yang merupakan keputusan politis dan tidak berkaitan dengan hukum pidana maupun perdata.

Adapun pokok penting kedua adalah, presiden maupun wakil presiden yang sedang dalam proses pemakzulan dapat diwakilkan. Apabila proses pemakzulan berakhir dengan pencopotan jabatan, maka MPR harus segera menunjuk gantinya paling lama dalam waktu 60 hari.

Mahfud menyangkal pengesahan PMK tentang Hukum Acara Impeachment karena MK telah menerima pengajuan pemakzulan. Pengesahan dilakukan untuk menghindari politisasi terhadap MK, yaitu justru saat kondisi masih netral dan belum ada pemikiran ke arah tersebut.

"Kalau hukum acara pemakzulan ini disahkan saat sudah ada pengajuan atau pemikiran ke arah sana, bisa-bisa MK dituduh membuat pengesahan demi mendukung atau justru menjatuhkan presiden atau wakilnya," tuturnya.

Lebih lanjut Mahfud menerangkan bahwa rancangan PMK mengenai Hukum Acara Impeachment itu sudah ada sejak MK dipimpin oleh Jimly Asshiddiqie. "Namun saat itu belum dapat disahkan karena belum tercapai kesepakatan siapa yang seharusnya menuntutkan pemakzulan. Sekarang sudah ada kesepakatan, yaitu DPR. Maka PMK itu segera disahkan saja," ujarnya.(kompas.com)

SIRUP DAN JAMU




Kota Batu yang terkenal dengan wisata dan udara sejuk dinginnya membawa ketertarikan banyak orang untuk tinggal dan menetap di sana. Kota yang tergolong kota baru jadi ini masih asri dan alami belum terjamah dengan tangan-tangan nakal pemuas diri seperti di kota- kota lain umumnya, membuat kita betah tinggal dan berlama-lama diteras tingkat kita. Hal inilah yang mendorong pasangan suami istri untuk menjauhkan diri dari kebisingan dan kepadatan penduduk metropolitan untuk menghabiskan masa-masa tua bersama kekasih tercinta. Desa Punten tepatnya, desa yang dihuni penduduk penghasil dan penjual bunga. Kehidupan penduduk disana sangat rukun dan saling gotong royng dalam segala hal, layaknya penduduk- penduduk desa lainnya.
Pagi yang cerah, indah dan menyejukkan hati gini enaknya ngapain ya ? celetuk seorang kakek bertanya pada istrinya. Iya kek ya … enaknya ngapain ya ?? sahut nenek kebingungan. Thing… aku ada ide kek, gimana klo kita buat sirup aja ? kata nenek. Ok ! jawab kakek. Nenek pun bergegas ke dapur dan menyiapkan segalanya untuk pasangan seumur hidupnya itu. 15 menit waktu berselang, nenek muncul dari balik pintu dengan dua cangkir sirup di tambah beberapa strip roti selai yang membuat perut kakek makin keroncongan. Seteguk demi seteguk kakek menikmati manisnya sirup seperti manisnya hidup mereka yang bergelimang harta. Karena ketagihan akan manisnya sirup, pasangan itu tiap hari melewati hidupnya dengan 5-7 cangkir sirup. Begitu pula dengan anak-anak dan cucu-cucu mereka yang tinggal di Jakarta, semuanya menjadi pecinta sirup dengan selera rasa masing-masing
Berbeda dengan tetangganya yang sangat suka minum sirup, Pak Toyo dan istrinya selalu minum jamu tiap pagi. Kebiasaan itu diturunkan pula pada anak-anak mereka dari kecil. Hidup mereka sebenarnya sangat baik, pada waktu muda Pak Toyo adalah seorang konraktor handal yang berhasil membangun ratusan gedung- gedung pencakar langit di kota-kota besar. Tiap pagi di meja makan selalu ada aneka macam jamu dari kunyit sampai kencur yang diambil dari kebun yang sengaja mereka tanam tumbuh-tumbuhan yang menjadi bahan jamu tak seperti tetangga mereka yang lebih suka menanam bunga. racik Sampai pada suatu waktu sang anak sulung merasa bosan minum jamu dan ingin minum sirup tiap hari seperti kakek yang tinggal disebelah rumahnya. “Yah, kenapa sih kita minum jamuuu melulu tiap pagi ? ayah tau gak sih kalo jamu itu pahitnya minta ampun? “ gerutu Si Sulung. Sang ayah hanya tersenyum, dan berkata “ kamu pasti dapat jawabnya nanti nak”.
5 tahun semenjak itu….
Kakek nenek pecinta sirup mengalami duka yang mendalam karena mereka di vonis mengidap penyakit diabetes dan kanker yang sangat ganas. Tubuh mereka sekarang semakin mengurus dari hari kehari, anak cucu mereka yang tinggal di Jakarta iba dan berduka melihat ayah-ibu /kakek-nenek mereka seperti itu. Hingga akhirnya mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Anak cucunya hanya bias tertunduk, meratapi kepergian keluarga tercintanya itu. Hanya 1 pesan singkat yang pasangan kakek nenek itu berikan pada semua anak cucu mereka. Mereka hanya berkata :
“ anak-anak dan cucu-cucu ku yang kucintai… jangan kau iringi kepergianku nanti hanya dengan tangis, tapi iringi kepergianku dengan merubah kebiasaan buruk yang telah kutanamkan sejak kecil pada kalian di pagi hari. Sesungguhnya pahitlah yang membuat hidup kita lebih baik”
Anak kakek nenek yang di tinggalkan tersebut tak mengetahui apa maksud perkataan pasangan sehidup se-mati itu…hingga bertanya pada tetangga sebelah yang ikut merawat kedua orang tuanya itu sebelum kedatangan mereka ke Kota Batu.
Keluarga pak Toyo yang juga membantu merawat kakek nenek tersebut mendapat ucapan banyak terima kasih dari anak-anak tetangganya itu karena telah banyak membantu merawa orang tuanya. Tapi mereka merasa aneh akan diri pak Toyo dan mulai bertanya, “ pak, apa sih resepnya supaya tetap bugar di Usia senja(80th) seperti bapak ?”. Pak toyo yang didampingi istri dan anak sulungnya menjawab dengan logat jawanya yang kental“jamu mbak, iya jamu yang membuat saya sebugar ini, tiap pagi saya dan keluarga biasa meminumnya… mbak dan mas mau nyoba?”. Merekapun terdiam sejenak dan kemudian menangis, sambil sesenggukan anak perempuan kakek mencium tangan Pak toyo dan berkata “terima kasih pa… Terima kasih banyak… kami tahu jawabanya”. Akhirnya anak-anak kakek-nenek itu menceritakan semua yang terjadi pada Pak Yoto sekeluarga. Kelegaanpun di terima putra sulung Pak Yoto yang selama ini bertanya dan sebel dengan kebiasaan orang tuanya akhirnya terjawab dengan secangkir jamu tiap pagi untuk anaknya dan tentunya untuk ayahnya tercinta..

---------------------------------Sekian-------------------------------------
Kawan, tahukah kalian bahwa pahitnya dunia sebenarnya merupakan pelajaran berharga bagi kita?
Tahukah kalian bahwa suatu hal yang manis itu nantinya akan menghancurkan kita semdiri jika berlebihan?
Kita anak muda jarang memikirkan hal itu, yup.. yang kita pikirkan hanya indahnya sekarang dan bagaimana kalian menikmati hidup dengan gampang dan mudah. Kita tak pernah memikirkan segala kesedihan, hanya fun and happy.
Contohnya saja, kita anak muda/ anda pada masa muda dulu akan selalu berusaha lari dari masalah, sekecil apapun masalah itu… dan kita selalu merasa berat jika cobaan datang menemui kita. Nantinya, jika kita tidak bias menelaah segala masalah dan terbiasa dengan masalah kita pasti akan tersamdung terus dan terus hingga stress akan selalu melingkupi hidup kita. Ya… positif tingking memang perlu kita lakukan agar segala hal sulit dapat kita hadapi.
Ingat segala hal pahit adalah suatu hal yang sangat baik bagi kita jika kita mengerti dan bias menanggapinya.

Rabu, 20 Januari 2010

HARMONI GAZZA




Jalur Gaza, ribuan rakyat dan anak-anak Palestina yang tak berdosa meninggal. Bahkan efek bom fosfor yang dilepaskan oleh Israel masih membekas di tubuh para korban dan kelaparan akibat blockade yang dilakukan oleh israel. Mata internasional pada saat infansi di jalur gaza seakan tertutup rapat. Entah, apa yang terbesit dalam benak para pemimpin-pemimpin dunia pada saat itu. Yup, PBB khususnya… apa kata harmoni kehidupan yang menonjolkan penyelarasan perbedaan untuk mencapai kedamaian dunia masih berlaku??

Saat melihat kepala anak-anak dibawah umur bercucuran darah, manula tertatit-tatih menyelamatkan diri dari serangan apakah itu saat harmoni berjalan dengan baik?. Manusia adalah tetap manusia, selalu ada yang kurang dalam hidupnya. Wilayah yang dititipkan pada kita oleh Sang Kholiq harusnya jadi tempat bersama yang harus di rawat dan dilestarikan dengan baik. Bukannya di jadikan sebagai ajang perebutkan untuk menunjukkan eksistensi sebuah golongan. Ingatkah kalian para pemimpin, saat mentari mulai muncul dan anak-anak kalian terbangun mencarimu?. “ ayah…ibu…” kata anak-anak kalian berulang-ulang sambil merengek. Dan kalianpun menjawab dengan penuh bahagia “ selamat pagi anakku…tenang, ayah dan ibu akan selalu disampingmu”… ( seharusnya ini yang harusnya ada di benak kalian). Sekarang pandanglah mata kalian, jika kalian menjadi rakyat palestina. Apakah kalian masih bisa mengucapkan dan menemui hal itu?

Kecelakaan, salah sasaran… apakah itu alasan yang tepat untuk menebus semua itu??. Dengan kedok mencari persembunyian atau menyerang HAMAS yang kalian sebut – sebut sebagai “TERORIS”. Sekarang, apakah yang kalian lakukan bukan suatu terror bagi rakyat palestina?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Harmoni, kata yang syarat dengan kedamaian dan ketenangan, yang akan tercipta jika mau duduk sejajar sebagai umat manusia tanpa memikirkan adanya perbedaan sedikitpun seperti yang banyak agama ajarkan. Dalam hidup, kata ini akan lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan. Banyak orang-orang tanpa kecuali kita sendiri masih saja ingin mendapat pengakuan diri di mata makhluk hidup lainnya. Kita contohkan saja kita yang ingin mendapat pasangan yang lebih baik dari pasangan kita sekarang. He…he… aku masih ingat kata-kata temanku kemarin, “ Friend, hal yang baru selalu akan tampak lebih indah… seperti baju di toko itu lho..” sambil tersenyum syarat makna.

Memang, kita sebagai manusia selalu merasa kurang atas segalanya. Tapi apakah harus mengorbankan orang lain?. Kita kembali ke HARMONI. Layaknya HARMONIKA, harmonika akan menciptakan suatu nada – nada yang indah dan dinamis jika kita meniupnya dengan tepat dan penuh perasaan. Tapi sayangnya kita belum bisa melakukannya. Andainya kita memikirkan itu, maka kita harus memulainya dari diri kita sendiri sebelum kita mengecam atau mencemooh orang lain akan tindakannya. Ya… kita harus mulai belajar mengerti, memahami arti dan tujuan dari HARMONI, menurutmu???

Minggu, 03 Januari 2010

Diesel Tua - akan kah terkenang ?


Mobil kijang keluaran 1987 bertenaga diesel merupakan mobil terbaik di masanya, banyak orang simpatik, tertarik atas bentuk dan tenaganya yang luar biasa. Bahkan sampai sekarangpun q masih sering melihat kijang tersebut lalu-lalang di jalanan protocol kota Malang. Tapi bedanya, sekarang kijang 87 itu lebih banyak mengeluarkan asap tebal. Beberapa saat yang lalu, ayahq yang hobi gonta-ganti mobil membeli mobil kijang yang serupa, karena kurang mendapat perlakuan yang baik, si kijang lambat panas tersebut jadi sering mogok. Mesin dieselnya tak sebandel masa mudanya dulu. Sekarang si kijang diesel hanyalah seonggok rongsokan yang akan enak digunakan jika mesin sudah mulai panas. Kenyamanan berkendara kijang itupun tak berdurasi lama, hanya sampai 1-3 jam si kijang diesel akan bekerja dengan baik.

Setelah itu ya… minta istirahat dulu deh!

Kenapa kita tak pernah mengoptimalkan masa muda kita dengan baik seperti kijang diesel pada masa 80-an ya?? Banyak hal yang kita damba-dambakan ternyata sudah pernah kita lakukan tapi dengan biasa-biasa saja. Di saat kita mulai bisa nyaman, damai, tenang dengan suatu hal yang indah selalu hanya sebentar?? Kenapa pula kita baaru bisa menghargai yang kita miliki dulu, setelah kita kehilangan orang/ moment tersebut??

Untuk itu, marilah kawan kita optimalkan hari ini dengan baik, sebelum kita kehilangan masa-masa itu.

YESTERDAY IS STUDY N’ WARNING…

TODAY IS GIFT N’ PRAY…

TOMORROW IS MISTERY N’ MIRACLE…

Isn’t That??

CERMIN

Di sebuah hunian dalam keramaian kota yang penuh sesak dan polusi dimana-mana....hiduplah sebuah keluarga yang dulunya bahagia dan harmonis dengan kesederhanaannya. hingga pd waktunya masuklah sebuah nafsu menguasai dan berkuasa dalam diri masing2nya.

Dalam rumah tsb awalnya hanya ada sebuah sisir yang menjadi alat bersoleknya, dan saat banyaknya keuntungan di dapat, si tuan rumah membeli sebuah cermin yang lambat laun bersahabat dengan sisir. sebut saja si cermin yang jika diibaratkan manusia, cermin adalah seseorang yang berdiri tegak dengan tumpuan kaki2 yang kuat dan selalu di butuhkan pemilik rumah untuk bersolek dengan hasrat menyombongkan diri pada dunia atas keberhasilan dirinya.

setelah beberapa tahun si cermin dan si Sisir di gunakan, si cermin mulai brani membusungkan dadanya dan berkata pada Sisir, ” apa kabar kawaaan....bagaimana menurutmu? sudah hebatkan aq ini??”. dan dengan senyum ramah dan penuh hormat sopan Si Sisir menjawab, “ baik sobat…..sangat hebat dalam Konteks q”. mendengar ucapan sisir, cermin sedikit dongkol, ”apa maksudmu dengan HEBAT DALAM KONTEKSQ sobat? kau meragukan kemampuan Q?!! sudahlah akui saja aq lebih di pentingkan keluarga ini disbanding engkau….mau bukti??? lihatlah kawan, stiap pagi keluarga ini bergantung dengan q, mreka akan takut keluar rumah jika tak mempersiapkan dirinya di depan Q!!!

Si Cermin terus membangga-banggakan dirinya saat sisir mencoba bersabar terus mengikuti omongan penghuni muda rumah tersebut walo cermin terus menganggap sisir bukanlah siapa2 dalam hunian tsb. sampai pada batas kesabarannya sisirpun berkata pada cermin “ maaf sobat….q tak bermaksud berkata tak sopan padamu, hanya saja q perpikr dlm benakq tentangmu… sobat, pernahkah kau berfikir bahwa kau masih punya sisi yang kurang?? pernahkah kau melihat dirimu sndr sblm memberi gambaran pada orang yang berdiri di depanmu?! pernahkah pula kau menyesal karna kau telah menjadikan mereka(penghuni rumah) sombong dengan kamuflase diri mereka yang tak mreka bawa keliang lahat mreka??”.

mendengar kata2 sobatnya Si cermin mulai tertunduk malu, sedangkan Si Sisir masih menyelipkan satu pertanyaan pada cermin, ”kawan....maukah kau bantu mreka menunjukkan apa arti sesungguhnya kita di hadirkan di dunia ini??”.
(arti SISIR= meluruskan segala hal yang kusut/ ruwet seperti ruwetnya manusia jika berhadapan dengan kebajibannya dengan Manusia dan dengan Tuhan. CERMIN= alat yang mengingatkan kita untuk sadar bahwa didunia ini hanya inilah sebenarnya manusia, tak ada yang lebih. semua sama dalam fisik kecuali iman kitalah yang membedakan Kita)